7 April 2013

remedial kesulitan belajar



FOTO BERSAMA KEPALA MI, DEWAN GURU DAN SISWA YANG DI OBSERVASI










FOTO BERSAMA SISWA YANG DI OBSERVASI















Pendahuluan

Kelompok kami mengadakan observasi pada 1 November 2012, pada Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) Jagabaya II yang terletak di Jalan Pahlawan Jagabaya II Kecamatan Way Halim Badar Lampung. Di bawah pimpinan Ibu Hj. Mumashiroh.S.Ag., MM. sekolah tersebut memiliki 6 lokal. Dimana masing-masing local di isi oleh tingkatan kelas dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Sekolah tersebut dibawah naungan Kementrian Agama.

Dalam proses belajar mengajar efektif, semua kelas di mulai dari pul 07.30 sampai dengan pukul 12.30 WIB. Adapun mata pelajaran yg di berikan kepada anak didik tidak jauh beda dengan Sekolah Dasar Negeri pada umumnya, hanya perbedaannya lebih menekanka kepada pendidikan agama islam dan pendidikan al-quran hadis, Aqidah Ahlak, Fikih, Bahasa Arab.

Mayoritas siswa merupakan penduduk asli sekitar lokasi MiN tersebut. Dan merupakan satu-satunya MIN yang ada di lingkungan Jagabaya II. Pada saat observasi, kami mengobservasi siswa kelas 4 (saat kelas 3 siswa tersebut berprestasi), dan siswa kelas 3.

Berikut hasil observasi kami.











Hasil observasi
                                                                                Nama    : SYIFA MELANDRI
                                                                                Tempat Tanggal Lahir: Bandar Lampung, 16 Maret 2003
                                                                                Kelas     : 4
                                                                                Prestasi : Juara Kelas Peringkat 1 dari kelas 1,2, 3. Pada saat ini
Pun Syifa masih mendominasi prestasi belajar di kelasnya. Ia menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, menurutnya pelajaran itu sangat mudah dan sudah  biasa untuk ia pelajari, begitu juga dengan matematika. Namun untuk pelajaran yang kurang diminati adalah Bahasa Arab, dan Fiqih. Dapat dilihat dalam Kumpulan Nilai pada kelas 3 (kenaikan kelas 4). Menurut ia mata pelajaran tersebut lebih memfokuskan untuk menghafal ayat al-quran yang menurutnya memerlukan banyak waktu dan konsentrasi penuh untuk menghafal.
Walaupun ia berprestasi, namun dalam hal keterampilan menulis, tulisan Syifa tergolong jelek. (info dari walikelas ).
Syifa merupakan anak pertama dari 2 saudara, kemudahan dalam belajar yang di alami syifa, di dukung oleh terpenuhinya fasilitas belajar syifa. Pelajaran yang di berikan di sekolah sering ia ulagi belajar di rumah dengan bimbingan orang tuanya. Walaupun syifa tidak melakukan bimbingan belajar tambahan di luar sekolah, namun ia puas akan prestasi yang di prolehnya.

Nama    : Rahmat Rusiamin
Tempat Tanggal Lahir     : Bandar Lampung, 11 Januari 2012
Kelas     : 3
Yamin, sapaan akrab teman-teman dan guru di sekolahnya. Merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara, ayahnya bekerja sebagai penggumpul barang-barang usai pakai (rongsok), sedang ibunya hanya ibu rumah tangga. Di sekolah ia tergolong anak yang kurang berprestasi. Banyak pelajaran yang sulit ia kuasai dikarenakan kesulitan ia dalam membaca. Dalam proses belajar di sekolah yamin mengakui, keterlambatan dalam belajar itu selain kesulitan dalam membaca, ia pun masih enggan mengulang pelajaran di rumah. Di karenakan keterbatasan akan fasilitas belajar dan waktu yang di gunakan hampir tidak ada. Seperti halnya Syifa, Yamin pun menyukai Bahasa Indonesia dan matematika. Namun karena harus “mengeja” dalam setiap materi pelajaran, itulah yg menyebabkan kesulitannya dalam menerima pelajaran secara efektif. Harapan Yamin, kelak ia lancer membaca, ia akan berprestasi seperti Syifa.

Nama                    : Ahmad Rahmat Hidayat
Tempat Tanggal lahir      : Bandar Lampung, 28 Agustus 2004
Kelas 3

Rahmat, merupakan sapaan akrabnya. Ia merupakan anak ke 3 dari 3 bersaudara, ayahnya bekerja sebagai pedang es sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Sama seperti Yamin, Rahmat pun mempunyai kesulitan dalam me,peroleh pelajaran, ia belum bias membaca secara lancar. Pada saat ini, ia masih belajar dengan “mengeja” kata tiap kata dalam perintah yang ada di dalam buku atau materi belajar di sekolah, selain itu ia pun tidak mempunyai kesempatan dalam mengulang pelajaran di rumah. Karena waktu yang ada di gunakannya untuk di habiskan bermain bersama teman-teman yang ada. Menurutnya belajar itu di lakukan di sekolah saja, dan di rumah waktunya bermain. Sama seperti kedua temannya, Rahmat juga mempunyai pelajaran yang di sukai yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika, namun kadang membuatnya untuk berusaha sekuat tenaga agar kalimat yang ia “eja” dapat terselesaikan dengan baik. Dan ia mengerti akan perintah yg di berikan dalam pelajaran tersebut.
Fiqih dan hafalan surat pendek merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit baginya. Sama alas an seperti Yamin di atas.
Jika di lihat dari Buku Kumpulan Nilai yang ada, nilai terendah Rahmat di peroleh pada mata pelajaran Matematika. Untuk menanggulangi kesulitan belajar yg ia rasakan, Rahmat mencoba untuk banyak berlatih Membaca kalimat yang ada, agar ia mangerti tugas apa yg akan ia lakukan dalam belajar.


Dalam observasi dan konseling, kelompok menggunakan konseling teman sebaya, dimana siswa yang tidak berprestasi dapat belajar dari pengalaman temannya yang berprestasi. Menggunakan trik yang teman berikan merupakan cara yang terbaik di berikan.

Kelompok pun mewawancarai perwakilan guru yang ada. Menanyakan kiat apa saja yang sekolah lakukan jika mendapatkan siswanya dalam memperoleh kesulitan belajar, yaitu dengan cara pemberian nasihat memanggil orang tua untuk datang ke sekolah. Pemberian Les tambahan tidak di berikan di sekolah utuk jenjang kelas dibawah kelas 6.

Adapun reward yang di berikan kepada mereka yag berprestasi adalah dengan pemberian hadiah dan piagam pada tiap pembagian lapor.

Kesimpulan

Kesulitan yang di alami siswa dalam memperoleh pelajaran di sekolah di sebabkan oleh kurang lancarnya mereka dalam membaca. Dan sekolah pun belum  menyiapkan bimbingan belajar bagi siswa di bawah kelas 6. 

Child Abuse


Kekerasan Orang Tua Pada Anak 


dicuplik dari kajian17 juli
Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak, tempat dimana anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pendidikan dalam keluarga sangat menentukan sikap seseorang, karena orangtua menjadi basis nilai bagi anak. Pola asuh, peran dan tanggung jawab yang dijalankan oleh orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak bukan merupakan pekerjaan yang mudah, dimana kadang kala orang tua mengalami hambatan. Hambatan-hambatan tersebut berujung pada perlakuan yang salah kepada anak.

Kasus-kasus perlakuan salah yang menimpa anak-anak yang seringkali terjadi adalah kekerasan pada anak. Selama tahun 2006 (dalam Andez, 2007), data dari komnas Perlindungan Anak (PA) menyebutkan, jumlah kekerasan fisik sebanyak 247 kasus, kekerasan seksual 426 kasus sedangkan kekerasan psikis 451 kasus. Kekerasan yang menimpa anak-anak, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tingginya kekerasan pada anak memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan menjadi persoalan yang amat serius, apalagi kekerasan tersebut dilakukan oleh orang tua sendiri. Dimana orangtua seharusnya menjadi seorang yang paling bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial.

Dari sekian pengaduan kekerasan yang diterima komnas Perlindungan Anak (PA), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah pertama, munculnya kekerasan dalam rumah tangga, terjadinya kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua. Kedua, terjadinya disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Ketiga, faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi.

Tindak kekerasan terhadap anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah, seperti penyusunan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (RAN-PKTP), pembangunan pusat-pusat krisis terpadu di rumah sakit, pembangunan ruang pelayanan khusus (RPK) di Polda dan Polres, dan penyebaran informasi dan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun kesemua upaya tersebut belum cukup untuk menekan tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

Sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga, orang tua sangat berperan dalam meletakan dasar-dasar perilaku bagi anak-anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tak sadar diresapinya dan kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Hal demikian disebabkan karena anak mengidentifikasikan diri pada orang tuanya sebelum mengadakan identifikasi dengan orang lain. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah salah satu cara mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi; penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking atau jual-beli anak. Patilima (2003) menganggap kekerasan merupakan perlakuan yang salah orang tua. Patilima mendefinisikan perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental.

Rumusan masalah dalam penelitian adalah fakta bahwa telah terjadi peningkatan kekerasan anak oleh orang tua. Dimana orangtua seharusnya menjadi seorang yang paling bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Padahal, kekerasan akan menimbulkan efek psikologis yang sangat berat bagi korban karena pengalaman traumatik masa kecilnya akan terus dibawa hingga anak menjadi dewasa.

Sedangkan secara umum tujuan penelitian ini akan mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut antara lain, bentuk-bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Adapun indikator untuk mengukur variabel bentuk-bentuk kekerasan anak, antara lain; 1) Kekerasan Fisik, yaitu, perbuatan orang tua kepada anaknya yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka baik ringan maupun berat. 2) Kekerasan Psikis, yaitu, perbuatan orang tua yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan penderitaan psikis berat pada anak, 3) Kekerasan Seksual, yaitu, Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup hidup rumah tangga tersebut; pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu, dan 4) Penelantaran Anak, yaitu, menelantarkan anak dalam lingkup rumah tangganya, membatasi atau melarang anak untuk beraktivitas yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga anak berada di bawah kendali orang tua dan timbul ketergantungan penuh pada orang tua.

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 60 orang anak yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk. Alasan pemilihan subyek penelitian di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk adalah (1) Berdasarkan informasi awal, diketemukan bahwa murid di SDN tersebut ada yang pernah dilaporkan mengalami kekerasan orang tua, selain itu informan adalah salah satu guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk, (2) Laporan tentang kekerasan anak di SDN tersebut berjumlah lebih dari 2 kali dan (3) Guru di SDN tersebut bersedia membantu kelengkapan data penelitian. Adapun ciri-ciri sampel penelitian, yaitu, 1) Jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, 2) Umur, 6-18 tahun, dalam kategori pengertian anak.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala, yaitu metode pengumpulan data yang berisi serangkaian pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan diri subyek yang ingin diteleiti, dengan proses pengisian informasi melalui informasi guru kelas. Dalam penelitian ini digunakan 1 macam skala yaitu skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak.
Sedangkan analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis Statistik Deskriptif, yang dilakukan untuk mengetahui deskripsi dari variabel, dimana variabel dalam penelitian ini adalah satu variabel (monovariabel). Validitas isi tes ditentukan melalui pendapat professional (professional judgement), yang dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing. Selain menggunakan validitas isi, untuk menguji kesahihan alat ukur juga dilakukan dengan mengkorelasikan butir skor total. Hal ini dilakukan untuk melihat indeks diskriminasi aitem. Suatu item alat ukur dinyatakan sahih, jika mempunyai nilai positif dan memiliki p (taraf signifikansi) maksimal 5% (Hadi, 2000).

Pada penelitian ini dilakukan 2 (dua) macam analisis, yaitu Analisis Indeks Diskriminasi Item atau Kesahihan Butir dan Uji Keandalan Alat Ukur. Hasil analisis kesahihan butir terhadap skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah dari 60 item yang disusun, 11 item gugur dan 49 item sahih dengan koefisien korelasi (rbt) antara 0,238 – 0,769 dengan taraf signifikansi (p) = 0,046 – 0,000. Sedangkan hasil uji keandalan skala menunjukkan bahwa koefisien korelasi = 0,948 pada taraf signifikansi (p) = 0,000. Hal ini berarti skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah andal.
Hasil analisa data dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang dilakukan terhadap variabel bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah antara lain ; 1) Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Fisik, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan fisik diperoleh harga mean = 33.72 dan dengan standar deviasi = 5.91. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan fisik menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 2 subyek (4 %), rendah = 2 subyek (4 %), sedang = 36 subyek (72 %), tinggi = 10 subyek (20 %) dan sangat tinggi = 0 subyek (0 %).
Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Psikis, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan Psikis diperoleh harga mean = 29.96 dan dengan standar deviasi = 6.16. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan psikis menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 0 subyek (0 %), rendah = 4 subyek (8 %), sedang = 36 subyek (72 %), tinggi = 9 subyek (18 %) dan sangat tinggi = 1 subyek (2 %).
Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Seksual, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan Seksual diperoleh harga mean = 33.56 dan dengan standar deviasi = 7.08. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan Seksual menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 2 subyek (4 %), rendah = 6 subyek (12 %), sedang = 35 subyek (70 %), tinggi = 6 subyek (12 %) dan sangat tinggi = 1 subyek (2 %).

Dan Analisis Deskriptif Pada Indikator Penelantaran Anak menunjukkan distribusi frekuensi dari data Penelantaran Anak diperoleh harga mean = 21.88 dan dengan standar deviasi = 5.68. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data Penelantaran Anak menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 0 subyek (0 %), rendah = 7 subyek (14 %), sedang = 35 subyek (69 %), tinggi = 9 subyek (18 %) dan sangat tinggi = 0 subyek (0 %). Hasil perhitungan analisis data selengkapnya pada lampiran.

Berdasarkan hasil analisa data, maka dapat diketahui bahwa kekerasan orang tua terhadap anak memang masih ada dan tergolong tinggi. Meskipun secara statistik nilainya masih kecil yakni berkisar antara 12 % sampai dengan 20 %.

Tipe Kepribadian Manusia

Kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe kepribadian manusia


Berikut ini kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe kepribadian manusia:

KOLERIS Si Kuat
Kelebihan:
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target
* Bebas dan mandiri
* Berani menghadapi tantangan dan masalah
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini".
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
* Membuat dan menentukan tujuan
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan
* Tidak begitu perlu teman
* Mau memimpin dan mengorganisasi
* Biasanya benar dan punya visi ke depan
* Unggul dalam keadaan darurat

Kelemahan:
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
* Senang memerintah
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran
* Terlalu kaku dan kuat/ keras
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya)
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer

MELANKOLIS Si Sempurna
Kelebihan:
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
* Sensitif
* Mau mengorbankan diri dan idealis
* Standar tinggi dan perfeksionis
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
* Hemat
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
* Kalau sudah mulai, dituntaskan.
* Berteman dengan hati-hati.
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
* Sangat memperhatikan orang lain

Kelemahan
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
* Mengingat yang negatif & pendendam
* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan
* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan
* Hidup berdasarkan definisi
* Sulit bersosialisasi
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)
* Memerlukan persetujuan

PHLEGMATIS Si Cinta Damai
Kelebihan:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
* Penengah masalah yg baik
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah
* Baik di bawah tekanan
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
* Rasa humor yg tajam
* Senang melihat dan mengawasi
* Berbelaskasihan dan peduli
* Mudah diajak rukun dan damai

Kelemahan
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
* Takut dan khawatir
* Menghindari konflik dan tanggung jawab
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
* Terlalu pemalu dan pendiam
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
* Kurang berorientasi pada tujuan
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
* Tidak senang didesak-desak
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.

SANGUINIS Si Populer
Kelebihan:
* Suka bicara
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
* Antusias dan ekspresif
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu
* Hidup di masa sekarang
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
* Umumnya hebat di permukaan
* Mudah berteman dan menyukai orang lain
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
* Menyukai hal-hal yang spontan

Kelemahan:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
* Susah untuk diam
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah
* Susah datang tepat waktu jam kantor
* Prioritas kegiatan kacau
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
* Egoistis
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
* Lebih berorientasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

Personality Assessment (Inventori Kepribadian)

.   PENGERTIAN TES KEPRIBADIAN

a.      Definisi Kepribadian
Dalam bahasa Inggris, kepribadian disebut personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani "persona", yang berarti topeng. Istilah ini kemudian  diadopsi oleh orang-orang Roma dan mendapatkan konotasi baru yaitu "sebagaimana seseorang nampak di hadapan orang lain". Konotasi ini seakan-akan menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah diri orang tersebut yang sebenarnya. Kata kepribadian memiliki banyak arti. Banyak peneliti dan ilmuwan mencoba mendefinisikan kepribadian secara komprehensif. Definisi-definisi yang coba dipaparkan oleh para peneliti atau ilmuwan antara lain:
*      Gordon Allport (dikatakan sebagai Bapak teori keribadian) mencoba merumuskan, menjelaskan dan mengklasifikasikan kurang lebih 50 pernyataan yan gmenggambarkan tentang kepribadian. Salah satunya Allport menerangkan kepribadian merupakan ”the dinamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjusment to his enviroment” (organisasi yang dinamis dalam diri individu yang merupakan rangkaian sistem psikofisik yang menentukan keunikan penyesuaian individu terhadap lingkungannya). Kata dinamis menunjukkan bahwa kepribadian bisa berubah-ubah, dan antar berbagai komponen kepribadian (yaitu sistem-sistem psikofisik) terdapat hubungan yang erat. Hubungan-hubungan itu terorganisir sedemikan rupa sehingga secara bersama-sama mempengaruhi pola perilakunya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
*      Beberapa peneliti mencoba merumuskan kepribadian dengan menyamakannya dengan temprament, yaitu kecenderungan alamiah dari perilaku, perasaan, dan pikiran individu. Raymond Cattel mendefinisikan kepribadian sebagai sesuatu yang memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang dalam situasi tertentu. Sedangkan menurut Alfred Adler, kepribadian adalah gaya hidup individu atau cara yang khas dari individu tersebut dalam memberikan respons terhadap masalah-masalah hidup. JP. Chaplin dalam Kamus Psikologi, yaitu integrasi dari sifat-sifat tertentu yang dapat diselidiki dan dijabarkan untuk menyatakan kualitas yang unik dari individu (Ahmadi, 2004).
*      Definisi lainnya merumuskan kepribadian sebagai kondisi yang ditampakkan keluar atau perilaku yang bisa diamati; sebagai contoh Watson,1924 (dalam Drummond & Jones, 2010) mencirikan kepribadian sebagai ”the end product of our habit system” (hasil akhir dari sistem kebiasaan).
*      Kepribadian merupakan kualitas seseorang yang bersifat subjektif. Sesuatu yang muncul dari dan sudah terdapat dalam diri seseorang – inner.
*      Kepribadian merupakan sesuatu dalam diri individu yang sifatnya konsisten, stabil dan merupakan perilaku yang menetap, dan dari waktu ke waktu cenderung sama (Maddi, 1980 dalam Drummond & Jones, 2010).
*      Kepribadian merupakan pola yang tetap dari pikiran, emosi, dan perilaku yang membedakan individu dari individu lain. (Drummond & Jones, 2010)
Lebih dalam lagi mempelajari kepribadian, ada tiga pemikiran fundamental yang mendasari kepribadian, yaitu:
1.      TRAITS (Sifat/Ciri/Karakter). Sifat bisa dijelaskan juga dengan ciri bawaan. Personality trait dapat dilihat sebagai karakteristik atau kualitas yang membedakan dan mempengaruhi individu.  Sifat dapat didefinisikan sebagai dimensi beda dari individu dalam kecenderungan untuk memperlihatkan kekonsistenan dari pikiran, perasaan, dan perilakunya (McCrae & Costa, 2003). Sifat diasumsikan relatih stabil dan menetap sepanjang waktu,dan sangat mempengaruhi perilaku.
2.      STATES. Berkaitan dengan kepribadian state diartikan sebagai beberapa sifat yang muncul namun sifatnya sementara. Jika trait menunjukkan karakteristik kepribadian yang menetap, sedangkan state menunjukkan perilaku yang cenderung sementara. Sebagai contoh: siswa cenderung mengalami kecemasan saat menghadapi ujian. Kecemasan disini merupakan state.
3.      TYPES. Beberapa peneliti mencoba memahami kepribadian melalui trait approach yaitu dengan mengklasifikasikan kepribadian dalam berbagai maca tipe, yang kemudian dikenal dengan tipe keribadian. Jika traits menitikberatkan pada karakter yang spesifik dari individu, maka type dapat dikatakan sebagai gambaran umum yang dapat menjelaskan individu. Tipologi Kepribadian mulai dikenal sejak Hipocrates mengklasifikasikan manusia kedalam empat tipe yaitu melancholic, phlegmatic, choleric, dan sanguine.   
Sebagai informasi, kepribadian secara umum dapat dilihat melalui berbagai macam perspektif yang didasarkan melalui teori-teori psikologi yang mendasarinya. Perspektif tersebut antara lain dirangkum pada tabel dibawah ini
Perspektif
Pandangan penting kepribadian
Psikoanalisis
Fokus pada pengaruh-pengaruh tidak sadar, pentingnya dorongan seksual, bahkan dalam bidang-bidang nonseksual.
Neo-analisis/Ego
Fokus pada diri (self) yang berjuang untuk mengatasi emosi dan dorongan di dalam diri dan tuntutan dari orang lain di luar diri.
Biologis
Menitikberatkan pada kecenderungan dan keterbatasan yang berasal dari warisan genetis; bisa dengan mudah dikombinasikan dengan sebagian besar pendekatan atau teori lain
Behaviorisme
Fokus pada analisis yang lebih ilmiah mengenai pengalaman belajar yang membentuk kepribadian
Kognitif
Melihat sifat aktif dari pikiran manusia; menggunakan pengetahuan modern dari psikologi kognitif
Trait
Teknik pemeriksaan individual yang baik
Humanisme
Menghargai hakikat spiritual seseorang; menekankan perjuangan untuk mencapai pemenuhan diri dan harga diri
Interaksionisme
Memahami bahwa kita adalah diri yang berbeda dalam situasi yang berbeda
b.      Definisi Tes Kepribadian/ Inventori Kepribadian
Bagaimanakah kita dapat mengetahui kalau si A itu sangat intorvert? Atau si B yang ekpresif dan cocok jadi pemimpin? Atau, si C yang sangat emosional jika ada yang membicarakan dia? Bagaimana kita dapat mengenali orang-orang ini sehingga kita bisa mengenal atau bahkan mempelajarinya lebih mendalam lagi? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering melakukan pengukuran terhadap kepribadian seseorang. Hanya saja kita biasa melakukannya berdasarkan ciri-ciri stereotipe dari ciri-ciri kelompok di mana individu berasal, misalnya: orang kota itu individualis, orang Jawa halus, orang Medan pelit, dan sebagainya. Kita juga cenderung menilai orang berdasarkan salah satu ciri tertentu yang kita sukai atau tidak kita sukai. Penilaian dengan cara ini sangat menyesatkan dan disebul hallo effect. Selain itu kita juga kerap mempunyai penilaian baik-buruk pada ciri-ciri pribadi tertentu.
Oleh karena itu diperlukan sperangkat alat tes atau asesmen yang dapat menggambarkan kepribadian seseorang. Inventori kepribadian merupakan inventori yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur struktur dan segi-segi dari kepribadian, atau karakteristik dari cara berpikir, merasa, dan bertindak (Segal & Coolidge, dalam Drummond & Jones, 2010). Dengan kata lain inventori kepribadian atau asesmen kepribadian atau tes kepribadian merupakan tes/inventori/asesmen yang menggambarkan karekteristik individu, dengan tujuan agar individu dapat mengenal dan memahami dirinya sendiri dengan gambaran atau penjelasan yang objektif dan terukur.
B.   SEJARAH TES KEPRIBADIAN
Sejarah perkembangan asesmen kepribadian dimulai pada tahun 1880-an oleh Sir Francis Galton, sepupu dari ilmuwan terkenal Charles Darwin ini merupakan orang yang pertama kali membuat laboratorium untuk mengukur perbedaan individual(Friedman & Schustack, 2008), salah satu hasil terbesar dari riset yang dilakukannya adalah munculnya teknik kuesioner sebagai prosedur standar dalam penelitian kepribadian. Tidak lama kemudian, G. Stanley Hall memperluas metode tersebut dengan menggunakan data dari sampel sejumlah orang dewasa, untuk menggambarkan tren perkembangan kepribadian pada remaja.
Sedangkan inventori pertama yang dikembangkan untuk melakukan penilaian terhadap kepribadian individu adalah the Woodworth Personal Data Sheet (1917). Instrumen ini digunakan pertama kali untuk kepentingan Perang Dunia I. Pada waktu itu Departemen Pertahanan AS ingin mendeteksi kemungkinan adanya tentara yang gagal di medan perang, namun metode wawancara klinis tidak praktis untuk diaplikasikan secara massal. Robert Sessions Woodworth membuat daftar dari beberapa gejala yang banyak diungkap oleh para psikiater dalam metode wawancara, seperti : “Apakah anda sering melamun?”, “Apakah anda takut melihat darah?”, dan kemudian menyusun daftar tersebut menjadi sebuah instrumen penilaian. Para tentara  yang dilaporkan memiliki banyak gejala harus mengikuti pemeriksaan lebih lanjut. Meskipun dianggap kurang peka dalam untuk mengukur populasi yang besar, instrumen ini terbukti mampu mendeteksi para tentara yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri, dengan lebih ekonimis dan efisien.
Seiring dengan waktu, item-item dalam Woodworth semakin dikembangkan dan isinya mulai bergeser disesuaikan dengan tujuan penggunaannya, mulai dari pengukuran secara pribadi maupun untuk kebutuhan institusi tertentu. Inventori self-report mulai berkembang menjadi beragam instrumen dengan beraneka fungsi dan manfaat. Beberapa inventori dikembangkan desain untuk membantu mengenali apakah individu berada dalam rentang normal, inventori semacam ini biasanya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengukur pemahaman diri, atau untuk membantu kegiatan bimbingan yang dilakukan oleh konselor, pendidik, atau praktisi dunia industri. Ada juga inventori yang disusun untuk membantu dokter dalam membuat analisa patologis pada kasus-kasus klinis(Cronbach, 1990).
C.   JENIS – JENIS TES KEPRIBADIAN
Menurut Gregory (2000) sejarah asesmen kepribadian terbagi menjadi 2 tren yang saling tumpang tindih, yaitu teknik proyektif yang tidak terstruktur, yang mendominasi pengukuran kepribadian pada awal abad 20-an, dan yang kedua yaitu pendekatan/metode yang terstruktur, seperti inventori self-report dan behavioral ratings, yang mulai berkembang pada pertengahan abad 20 dan terus meningkat popularitas penggunaannya hingga saat ini.
a.      Teknik Proyektif
Teknik proyektif yaitu teknik asesmen yang berusaha mempelajari kepribadian melalui penggunaan stimulus, tugas, atau situasi yang relatif tidak terstruktur. Disebut poyektif karena teknik ini memungkinkan individu untuk dapat memproyeksikan motivasi dalam dirinya terhadap alat tes yang diberikan. Selain membuat gambar, tes proyektif juga mencakup bercerita, melengkapi kaimat, atau melakukan asosiasi kata (Friedman & Schustack, 2008). Teknik proyektif terbukti mampu memberikan hasil dengan hipotesis yang lengkap, namun sebagian besar teknik ini kurang diminati, serta tidak mendapat persetujuan dan dukungan dari para praktisi yang berorientasi psikometri. Tes proyektif mendapat dukungan yang luas dari para pendukung teori psikoanalisis karena teknik ini berusaha untuk menangkap motivasi tidak sadar yang dimiliki oleh individu.
Salah satu teknik proyektif yang kontroversi, sering dipertanyakan, dan sekaligus paling banyak digunakan adalah tes Rorschach. Tes Rorschach merupakan tes proyektif berupa 10 percikan tinta pada kertas yang dibuat oleh seorang psikiater asal Swiss bernama Hermann Rorschach. 10 percikan tinta itu terdiri dari 5 percikan berwarna hitam dan abu-abu, 2 berwarna hitam, abu-abu, dan merah, serta 3 lainnya merupakan campuran dari beberapa warna pastel (Kaplan, 2009). Rorschach menunjukkan satu persatu kartu tersebut kepada pasien dan meminta pasien untuk memberikan deskripsi mengenai apa yang mereka lihat dalam percikan tinta tersebut. Tes ini memiliki keterbatasan yang sama dengan tes proyektif lainnya, yaitu dalam pemberian skor. Interpretasi yang diberikan satu tester bisa berbeda dengan yang diberikan oleh tester lain dalam kesempatan tes yang berbeda, hal ini yang menyebankan skor reliabilitas tes Rorschach menjadi rendah. Meskipun usaha untuk melakukan standarisasi terhadap pemberian skor telah dilakukan, namun masih banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tes ini tidak memiliki validitas yang baik, meskipun begitu, sampai saat ini tes Rorschach masih tetap banyak dimanfaatkan terutama dalam seting klinis (Exner, 1986 & Peterson, 1978, dalam Kaplan 2009).
Tes proyektif lain yang juga sering digunakan yaitu TAT (Thematic Apperception Test) yang dikembangkan pada tahun 1935 oleh Christina Morgan dan Henry Murray dari Harvard University. Kaplan (2009) menjelaskan beberapa perbedaan tes ini dengan Rorschach dalam tabel berikut,
RORSCHACH
TAT
Ditolak oleh komunitas ilmiah
Diterima dengan baik oleh komunitas ilmiah
Tidak berdasar teori apapun
Berdasarkan teori kebutuhan Murray (1938)
Terlalu banyak diklaim
Tidak banyak diklaim
Diakui sebagai instrumen diagnostik
Tidak diakui sebagai instrumen diagnostik
Banyak digunakan dalam seting klinis
Digunakan dalam seting klinis dan non klinis
Tes TAT lebih terstruktur dan tidak seambigu tes Rorschach. TAT terdiri dari serangkaian foto/gambar yang menggambarkan beberapa adegan. Dalam TAT testee diminta untuk membuat sebuah cerita tentang gambar yang ditunjukkan, termasuk perkiraan mengenai apa yang akan terjadi kemudian.
Penting untuk diperhatikan bahwa tes proyektif, seperti halnya semua tes kepribadian, membuat asumsi mengenai hakikat dari kepribadian dan perilaku. Tes proyektif mengasumsikan adanya pola dasar di dalam diri seseorang, dan pola ini muncul dalam cara individu merespon stimulus yang diberikan.
b.      Pendekatan/Metode Terstruktur
Pendekatan/Metode Terstruktur adalah metode asesmen kepribadian yang lebih obyektif dan lebih disukai oleh para psikolog. Gregory (2000) membagi asesmen kepribadian menjadi 2 bagian besar, yaitu asesmen kepribadian terstruktur (Structured Personality Assessment), dan asesmen perilaku (Behavioral Assessment).
1.      Structured Personality Assessment
Pendekatan terstruktur di sini maksudnya yaitu bahwa beberapa asesmen kepribadian berikut ini telah dikaji berdasarkan perspektif metodologis dalam ilmu psikometri, meliputi unsur reliabilitas, kunci kriteria, analisis faktor, validasi konstruk, dan unsur lain dalam statistika testing. Dengan kata lain, asesmen kepribadian terstruktur adalah alat ukur yang merupakan hasil dari sebuah riset, bersifat obyektif, serta memiliki administrasi, skoring, dan interpretasi yang sangat rapi dan spesifik. Saat ini asesmen-asesmen terstruktur ini sudah bisa diikuti dengan menggunakan komputer, bahkan dengan sistem online, testee hanya tinggal menjawab pertanyaan yang ditampilkan di layar, dan beberapa menit berikutnya hasil sudah bisa di-print.
Para ahli psikometri kontemporer berpatokan pada 3 pendekatan dalam mengembangkan tes, yaitu pendekatan yang berdasarkan teori, berdasarkan analisa faktor, dan pendekatan yang berdasarkan kunci kriteria (criterion-key methods). Pada kesempatan ini kami juga akan menjelaskan tentang pembagian inventori kepribadian berdasarkan kriteria tersebut.
*  Inventori yang dikembangkan berdasarkan teori
v  Edward Personal Preference Schedule (EPPS)
EPPS merupakan inventori kepribadian terstruktur pertama yang dikembangkan berdasarkan teori kepribadian Henry Alexander Murray (1938). Teori ini berisi 15 variabel kepribadian individu, dan sudah pernah dikembangkan dalam tes proyektif bernama Thematic Apperception Test (TAT) kepribadian individu. Karena merasa tidak puas dengan kesubyektifan tes proyektif, maka pada tahun 1958 Allen L. Edwards dari University of Washington berusaha mengembangkan sebuah inventori yang terstruktur dan obyektif, maka disusunlah EPPS yang terdiri dari 210 pasang pernyataan. Inventori ini menggunakan format pilihan pernyataan tertutup, dimana testee diharuskan untuk memilih satu pernyataan yang paling sesuai dengan kepribadiannya, dari sepasang pernyataan yang diberikan. Bagi sebagian testee format pilihan pernyataan di EPPS ini akan terasa aneh dan kurang nyaman, karena banyak memberikan pilihan-pilihan yang cukup sulit dan membingungkan, misalnya :
1.      A. Saya suka membantu seorang nenek menyeberang

22 Maret 2013

buliying


Seorang anak lari ke rumah sepulang sekolah, membanting pintu kamar lalu membanting dirinya ke kasur dan menutup kepalanya dengan bantal. Anak ini diam terus selama berjam-jam. Ketika ditanyakan oleh orang tuanya anak ini tidak mau mengatakan apapun juga. Di satu sisi kota lainnya, seorang anak remaja terlihat sedang menyendiri di sudut toilet di SMA nya. Menyendiri dan hanya merenung. Sementara di sisi kota lainnya seorang karyawan kantor mengeluhkan demam dan pusing-pusing setiap saat memasuki gedung kantornya. Apa yang sedang terjadi dengan mereka ? Ternyata mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama di-bully. Pernahkah Anda mengalami situasi seperi ini ? Pernahkan Anda mendapatkan kerabat, anak, teman,atau saudara yang mendapat perlakuan bullying ? Atau barangkali Anda sendiri yang melakukan bullying, hehehehe….
Bullying adalah segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang kepada seseorang lainnya dengan maksud dan tujuan untuk menakut-nakuti atau ingin membahayakan orang lain. Anak-anak yang melakukan tindakan bullying biasanya memilih seseorang yang lemah untuk di-bully. Bisa lemah secara fisik atau lemah secara status sosial. Begitu juga dengan remaja dan pada usia dewasa. Seseorang yang mendapat perlauan bully di kantor biasanya adalah seorang karyawan baru atau seseorang yang tidak disukai oleh boss-nya. Atasan cenderung melakukan tindakan bullying kepada anak buahnya karena mempunyai struktur sosial yang lebih tinggi. Bullying bisa dilakukan dimana saja dan pada usia berapapun. Umumnya bullying dimulai semenjak usia sekolah dasar dan menjadi semakin umum pada sekolah menengah. Tingkat kuliah mungkin ada bullying namun sepertinya angka kejadiannya tidak cukup banyak karena pada saat kuliah umumnya sudah mengenal cara belajar sendiri dan tidak harus attach dengan segala aktifitas kampus. Pada lingkungan kerja, organisasi yang moderen biasanya sama sekali tidak didapatkan bullying. Jika ada staf atau pimpinan pada organisasi yang masih melakukan tindakan bullying barangkali yang bersangkutan tidak cocok bekerja di organisasi moderen.
Sumber gambar : http://static.disaboom.com
Bullying umumnya mempunya dua bentuk. Bisa berupa tindakan fisik atau tindakan emosional. Bullying fisik biasanya berhubungan dengan kekerasan fisik seperti memukul, menampar dan semua aktifitas yang melibatkan kontak fisik. Bullying emosional umumnya dilakukan dengan cara-cara merendahkan orang lain, memanggil dengan sebutan-sebutan yang merendahkan, mengejek, atau menghina. Pria cenderung menggunakan tindakan fisik saat melakukan bullying, sementara perempuan cenderung menggunakan kekerasan emosional. Menggosipkan teman sekerja sehingga membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman juga termasuk tindakan bullying yang bersifat emosional. Di sekolahan biasanya anak-anak perempuan akan membentuk sebuah kelompok-kelompok eksklusif lalu melakukan tindakan bullying kepada kelompok minoritas atau kepada adik kelas yang dirasa mempunyai kelebihan dibandingkan kelompok eksklusif tersebut. Ternyata hal ini bisa berlanjut sampai usia kerja. Di kantor mungkin pernah mendengar anekdot bahwa orang yang tidak ikut ngumpul-ngumpul biasanya adalah orang yang digosipkan. Barangkali Anda termasuk orang yang sering melakukan tindakan tersebut. Hayo ngaku aja hehehehe…. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini dikenal istilah cyber bullying. Tren terbaru ini malah terjadi sebaliknya, tidak dilakukan kepada seseorang yang posisinya lebih kuat, namun bisa saja dilakukan oleh seseorang yang secara sosial lebih lemah. Akhir-akhir ini sering sekali mendengar seorang murid membuat status facebook yang isinya mengolok-olok gurunya, sehingga anak didik tersebut kemudian ditegur atau dikeluarkan. Seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri mengeluhkan ke saya tentang maraknya fenomena bullying kepada dosen oleh mahasiswa melalui twitter. Cyber bullying lebih membahayakan daripada visual bullying karena bisa saja dilakukan oleh siapapun dan tidak mengenal batasan apapun.
 Jika Anda mendapati seseorang yang di-bully maka Anda harus menjadi bagian untuk mencegah meluasnya tindakan tersebut.
Mengapa penting untuk menghentikan bullying ? Seorang anak yang di-bully cenderung akan mempunyai ekspresi negatif terhadap dirinya sendiri. Pandangan diri dan bagaimana menilai diri sendiri cenderung tertekan. Jika berlangsung lama sangat berbahaya bagi perkembangan kejiwaan. Akibatnya anak tersebut akan tumbuh menjadi dewasa yang enggan untuk mengekspresikan dirinya. Tidak yakin bahwa dirinya mempunyai kemampuan spesifik yang lebih dibandingkan orang lain. Tidak sedikit anak yang ter-bully kemudian bunuh diri karena sangat depresi. Sementara anak yang melakukan tindakan bullying cenderung tidak mempunyai nilai akademis yang baik. Anak-anak ini cenderung drop out dari sekolah, bermasalah dengan napza atau alkohol dan ada kecenderungan untuk melanggar hukum.
Sumber gambar : http://labspace.open.ac.uk
Anak-anak yang melakukan tindakan bullying biasanya lebih kuat atau besar secara fisik. Mereka melakukan tindakan tersebut karena mereka berpikir bahwa mereka lebih superior dibandingkan anak yang lain. Anak-anak ini biasanya termasuk anak-anak yang selalu bertindak tanpa berpikir, sehingga kemudian juga tidak berpikir tentang perasaan orang lain atau bahkan sama sekali tidak bisa mengerti bahwa orang lain juga mempunyai perasaan. Anak-anak yang melakukan tindakan bullying kadang berasal dari latar belakang orang tua yang selalu bertengkar. Mereka kemudian mem-bully anak lain karena mereka sendiri juga merasa ter-bully oleh kondisi keluarga atau orang tuanya. Anak-anak ini perlu konseling. Dialog antara anak-anak dan konselor akan mampu membantu agar anak-anak ini bisa memahami tentang tindakan yang telah mereka lakukan. Konseling juga bisa membantu anak-anak bullyers untuk berinteraksi positif dengan orang lain. Jika tidak diatasi, bisa menimbulkan masalah kepribadian yang cukup serius ketika dewasa, misalnya ketidakmampuan untuk mengikuti norma masyarakat dan ketidakmapanan di tempat kerja. Kenali anak Anda apakah anak Anda termasuk anak yang sering melakukan tindakan bullying.
Kenali juga apakah anak Anda termasuk anak yang suka di-bully. Ajarkan anak Anda untuk percaya diri sendiri. Berikan bekal berupa kemampuan spesifik yang dimiliki si anak sebagai kelebihan dibandingkan dengan anak lain. Ajarkan anak Anda untuk secara berani mampu mengatakan “Stop melakukan itu” atau mengatakan “Apa yang kamu lakukan tidak menakutkan saya”. Ajarkan untuk mengucapkan itu dengan suara yang tegas dan tenang. Berjalanlah menjauh dengan tenang, jangan lari. Beritahukan kepada orang tua anak yang melakukan bullying atau kepada guru-guru. Ikutkan anak Anda kepada kelompok-kelompok positif, misalnya kelompok pramuka, paduan suara atau kelompok apapun yang bersifat positif dan bisa membawa prestasi. Jika mendapat perlakuan cyber bullying jangan panik dengan membalas melalukan tindakan yang sama. Sebaiknya segera print atau copy status di jejaring sosial tersebut dan tunjukkan kepada guru, kepala sekolah atau atasan di tempat kerja jika mendapatkannya di tempat kerja.