Jika kerja hanya sekedar bekerja.. babi di hutan juga bekerja... jika hidup hanya sekedar hidup. Kera juga hidup .. #buya hamka
29 Juli 2013
17 Mei 2013
SOSIOANTROPOLOGI PENDIDIKAN
MAKALAH
SOSIOANTROPOLOGI
PENDIDIKAN
Dosen pengampu : Drs.Ahmad Hisbullah
Lia Gustina Ais 10110117
![]() |
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
( STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2013– 2014
KATA
PENGANTAR
Assalamuaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT, dengan segala hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah
Sosoantropologi pendidikan . Tak lupa sholawat serta salam senantiasa terlimpah
kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.
Makalah sosioantropologi pendidikan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah.
Diharapkan para pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah dari makalah ini.
Saran serta kritik sangat penulis harapkan, mengingat mamkalah ini masih jauh
dari kata sempurna.
Kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan dan bantuan dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya.
Wassalamuaikum Wr.Wb.
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan sosiologi antropologi pendidikan di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi antropologi pendidikan sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi antropologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Oleh karena itu mengetahui dan memahami seluk beluk sosiologi antropolgi pendidikan sangat dianjurkan guna mendapatkan pengetahuan yang menunjang perkembangan ilmu itu sendiri dan aplikasinya dalm kehidupan baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
BAB II
SEJARAH, PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
SOSIOLOGI ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
2.1
Sejarah,
Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan merupakan
disiplin ilmu yang relatif baru, berkembang di awal abad 20 dan mengalami
hambatan dalam perkembangannya, karena dianggap dapat dipelajari atau merupakan
salah satu sub dalam pembahasan sosiologi.
1. Sejarah Sosiologi Pendidikan
Kata atau istilah ”sosiologi” pertama-tama muncul dalam salah satu jilid karya tulis Auguste Comte (1978 – 1857) yaitu di dalam tulisannya yang berjudul ”Cours de philosophie Positive.” Oleh Comte, istilah sosiologi tersebut disarankan sebagai nama dari suatu disiplin yang mempelajari ”masyarakat” secara ilmiah. Dalam hubungan ini, ia begitu yakin bahwa dunia sosial juga ”berjalan mengikuti hukum-hukum tertentu” sebagaimana halnya dunia fisik atau dunia alam. (Faisal dan Yasik, tt:11)
Berdasarkan hal diatas, kita tahu
bahwa Comte menyakini dunia sosial juga dipelajari dengan metode yang sama
sebagaimana digunakan untuk mempelajari dunia fisik atau kealaman. Dan bidang
kajian sosiologi pendidikan sendiri, berangkat dari keinginan para sosiologi
untuk meyumbangkan pemikirannya bagi pemecahan masalah pendidikan. Dalam
pandangan mereka, pada saat itu sosiologi pendidikan diasosiakan dengan konsep
”Educational Sociology.”
Dalam perkembangannya, pada tahun 1914 sebanyak 16 lembaga pendidikan menyajikan mata kuliah ”Educational Sociology” pada periode berikutnya, muncul berbagai buku yang memuat bahasan mengenai ”Educational Sociology,” termasuk juga berbagai konsep tentang hubungan antara sosiologi dengan pendidikan.
Dalam perkembangannya, pada tahun 1914 sebanyak 16 lembaga pendidikan menyajikan mata kuliah ”Educational Sociology” pada periode berikutnya, muncul berbagai buku yang memuat bahasan mengenai ”Educational Sociology,” termasuk juga berbagai konsep tentang hubungan antara sosiologi dengan pendidikan.
Selama puluhan tahun pertama, perkembangan sosiologi pendidikan berjalan lamban. Perkembangan signifikan sosiologi pendidikan ditandai dengan diangkatnya Sir Fred Clarke sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Kependidikan di London pada tahun 1937. Clarke menganggap sosiologi mampu menyumbangkan pemikiran bagi bidang pendidikan.
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation. Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Adapun perkembangan sosiologi di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi yang salah satunya adalah sosiologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
2. Pengertian Sosiologi Pendidikan Sosiologi pendidikan
terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Dilihat dari istilah etimologi
kedua kata ini tentu berbeda makna, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan
serta budaya manusia, keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan,
terutama dalam sistem memberdayakan manusia dimana sampai saat ini memanfaatkan
pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.
a. Sosiologi Secara etimologis sosiologi berasal dari kata latin “socius” dan kata Yunani “logos”. “Socius” berarti kawan, sahabat, sekutu, rekan, masyarakat. “logos” berarti ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. (Chaerudin, dkk, 1995:67)
Dari segi isi, banyak ahli sosiologi mengemukakan berbagai definisi. Kita ambil sejumlah definisi untuk memberi gambaran tentang sosiologi. W.F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam buku mereka “A Handbook of Sociology”, memberikan definisi sosology is the scientific of social life; yang maksudnya : sosiologi adalah studi secara ilmiah terhadap kehidupan sosial. (Ahmadi, 1984:9) Roucek dan Wafren : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. (Soekanto, 1989:16).
Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi adalah mempelajari tentang masyarakat manusia dalam bentuknya yang bermacam-macam, watak dan ciri-ciri dari pada tiap-tiap bentuk itu dan hukum yang menguasai perkembangan. Sementara Prof. Groenman mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan-tindakan manusia dalam usahanya menyesuaikan diri dalam suatu ikatan. Penyesuaian ini meliputi:
1. menyesuaikan diri terhadap lingkungan geografi
2.
menyesuaikan diri pada sesama manusia
3. penyesuaian diri dengan lingkungan kebudayaan sekelilingnya
(Ahmadi, 1989:9-10).
3. penyesuaian diri dengan lingkungan kebudayaan sekelilingnya
(Ahmadi, 1989:9-10).
Dari rumusan diatas kita dapat menarik kesimpulan, yaitu bahwa sosiologi adalah:
1. merupakan hidup bermasyarakat dalam
arti yang luas
2. perkembangan masyarakat di dalam
segala aspeknya
3. hubungan antar manusia dengan
manusia lainya dalam segala aspeknya
b. Pendidikan
Paedegogic berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata
“pais”, artinya anak, dan ”again” diterjemahkan membimbing, jadi paedagogic
yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. Secara definitif pendidikan
(paedagogic) diartikan, sebagai berikut:
1. Jhon Dewey Pendidikan adalah proses pembentukan
kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam
dan sesama manusia. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
2. Langeveld Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam
membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang
disadari dan dilaksanakan di sengaja antara orang dewasa dengan anak yang belum
dewasa (Suwarno, 1992:49)
3. Ki Hajar Dewantara Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
4. Undang-undang Republik Indonesia SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.
3. Ki Hajar Dewantara Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
4. Undang-undang Republik Indonesia SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.
c. Sosiologi Pendidikan
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education
merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung
dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan
itu sendiri. (Faisal dan Yasin, tt:39)
Beberapa pengertian sosiologi pendidikan yang lain termuat dalam Nasution (2004: 4):
Beberapa pengertian sosiologi pendidikan yang lain termuat dalam Nasution (2004: 4):
1. menurut George Payne, yang kerap disebut bapak Sosiologi
pendidikan, secara spesifik memandang sosiologi pendidikan sebagai studi yang
komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segala segi ilmu yang
dterapkan. Baginya, sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu
dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan sosiologis. Adapun menurutnya
adalah memberikan guru-guru, para peneliti yang efektif dalam sosiologi yang
dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang
pendidikan.
2. F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi
pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan
sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasikan
pengalamannya. Sosiologi pendidikan juga mempelajari kelakuan sosial serta
prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
3. E.B.Reutern: Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban
untuk menganalisa lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan
perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga
pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi
pada dasarnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial saling mempengaruhi
(process social interaction).
Tidak ketinggalan, Gunawan (2006:2) mengemukakan definisinya tentang sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Tidak ketinggalan, Gunawan (2006:2) mengemukakan definisinya tentang sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat dalam pendidikan, merupakan sebuah
proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat
berinteraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi lain,
sosiologi pendidikan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian
masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat
menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang
muncul dalam masyarakatnya.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan suatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan suatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
3. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Penelitian dan analisis terhadap sistem pendidikan
berdasarkan keduanya yang sekarang, tentunya sudah bisa dikuatkan antar-antar
ruang lingkup sosiologi pendidikan. Karena minat dan pengalaman, ruang lingkup
yang diajukan ini terbatas pada wilayah analisis seputar sistem pendidikan
formal. Dalam hubungan ini, Nasution (2004:6-7), mengemukakan ruang lingkup
sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
1. hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek
lain dalam masyarakat
a. hubungan pendidukan dengan sistem
sosial atau struktur social
b. hubungan antara sistem pendidikan
dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c. fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d. fungsi sistem pendidikan dalam
proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e. fungsi sistem pendidikan formal
bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya
2. hubugan antar manusia di dalam Sekolah
a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b. pola interaksi sosial dan stuktur
masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan,
stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam
clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
2. pengaruh Sekolah terhadap perilaku
dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan
a. peranan sosial guru-guru / tenaga
pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga
pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
4.
hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan. Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a. Pengaruh masyakarat atas organisasi
Sekolah /lembaga pendidikan
b. Analisis proses pendidikan yang
terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c. Hubungan antara Sekolah dan
masyarakat pendidikan dan
d. Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam
masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami
sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan
masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.
2.2 . Sejarah, Pengertian dan Ruang Lingkup Antroplogi
Pendidikan
1. Sejarah Antropologi Pendidikan
Sejarah tentang antroplogi pendidikan tidak bisa kita
pisahkan dari perkembangan ilmu antropologi itu sendiri, karena antropologi
pendidikan merupakan bagian dari antroplogi.
Antroplogi sebagai sebuah ilmu mengalami tahapan-tahapan dalam dalam perkembangannya. Koentjaraningrat (1986:1-5) membaginya ke dalam 4 (empat) tahap.
Tahap pertama, ditandai dengan tulisan tangan bangsa Eropa
yang melakukan penjajahan di benua Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad
ke-15. Tulisan itu merupakan deskripsi keadaan bangsa-bangsa yang mereka
singgahi. Deskripsi yang dituliskan mencakup adat istiadat, suku, susunan
masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik. Deskripsi tersebut sangat menarik bagi
masyarakat Eropa karena berbeda dengan keadaan di Eropa pada umumnya. Bahan
deskripsi itu disebut juga Etnografi (Etnos berarti bangsa)
Tahap kedua, mereka menginginkan tulisan-tulisan atau deskripsi
yang tersebar itu dikumpulkan jadi satu dan diterbitkan. Isinya disusun
berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat, yaitu masyarakat dan kebudayaan
manusia berevolusi dengan sangat lambat, dari tingkat rendah sampai tingkat
tertinggi. Dari sinilah bangsa-bangsa digolongkan menurut tingkat evolusinya.
Sekitar tahun 1860, terbit karangan yang mengaklasifikasikan berbagai
kebudayaan tingkat evolusinya. Saat itu lahirlah antropologi.
Dengan demikian pada tahap kedua ini, antroplogi telah
bersifat akademis. Pada tahap ini, antropologi mempelajari masyarakat dan
kebudayaan primitiv untuk memperoleh pengertian mengenai tingkat-tingkat
perkembangan dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran manusia di dunia.
Tahap ke tiga, antropologi menjadi ilmu yang praktis. Pada
tahap ini, antropologi mempalajari masyarakat jajahan demi kepentingan
kolonial. Hal ini berlangsung sekitar awal abad ke-20. Pada abad ini,
antropologi semakin penting untuk mengukuhkan dominasi bangsa-bangsa Eropa
Barat di daerah jajahannya. Dengan antropologi, bangsa Eropa mempelajari dan
tahu bagaimana menghadapi masyarakat daerah jajahannya. Selain itu,
bangsa–bangsa terjajah pada umumnya belum sekompleks bangsa Eropa Barat. Oleh
karena itu, mempelajari bangsa-bangsa terjajah bagi bangsa Eropa dapat menambah
pengertian mereka tentang masyarakat mereka sendiri (Bangsa Eropa Barat) yang
kompleks.
Tahap ke empat, antropologi berkembang sangat luas, baik dalam akurasi bahan pengetahuanya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Hal ini berlangsung sekitar pertengahan abad ke-20. Sasaran penelitian antropologi di masa ini bukan lagi suku bangsa primitiv dan bangsa Eropa Barat, tapi beralih pada penduduk pedesaan, baik mengenai keanekaragaman fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya termasuk suku bangsa di daerah pedesaan di Amerika dan Eropa Barat itu sendiri, peralihan sasaran penelitian itu terutama disebabkan oleh munculnya ketidaksenangan terhadap penjajahan dan makin berkurangnya masyarakat yang dianggap primitiv.
Seperti halnya antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha menyusun genaralisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.
Shomad (2009:1) menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Di Indonesia, sebagai negara yanag sedang membangun, sangat diperlukan pengenalan kondisi yang lebih baik dan lebih lengkap agar pembangunan yang diberlakukan tidak menimbulkan kesenjangan dengan kondisi yang sejatinya. Antropologi pendidikan sering sejalan dengan perkembangan tersebut. Dewasa ini antropologi pendidikan sendiri atau bersama-sama dengan sosiologi pendidikan, menjadi mata kuliah wajib di lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
Tahap ke empat, antropologi berkembang sangat luas, baik dalam akurasi bahan pengetahuanya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Hal ini berlangsung sekitar pertengahan abad ke-20. Sasaran penelitian antropologi di masa ini bukan lagi suku bangsa primitiv dan bangsa Eropa Barat, tapi beralih pada penduduk pedesaan, baik mengenai keanekaragaman fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya termasuk suku bangsa di daerah pedesaan di Amerika dan Eropa Barat itu sendiri, peralihan sasaran penelitian itu terutama disebabkan oleh munculnya ketidaksenangan terhadap penjajahan dan makin berkurangnya masyarakat yang dianggap primitiv.
Seperti halnya antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha menyusun genaralisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.
Shomad (2009:1) menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Di Indonesia, sebagai negara yanag sedang membangun, sangat diperlukan pengenalan kondisi yang lebih baik dan lebih lengkap agar pembangunan yang diberlakukan tidak menimbulkan kesenjangan dengan kondisi yang sejatinya. Antropologi pendidikan sering sejalan dengan perkembangan tersebut. Dewasa ini antropologi pendidikan sendiri atau bersama-sama dengan sosiologi pendidikan, menjadi mata kuliah wajib di lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
2. Pengertian Antropologi Pendidikan
a. Antroplogi
Antropologi berasal dari kata Yunani ”antrophos” yang
berarti ”manusia” dan ”logos” yang berarti ”ilmu”. Jadi antropologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk masyarakat.
Menurut R. Bedediet (Harsojo,1984:1) perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan
kepada sifat khusus badaniah dan cara produksi tradisi serta nilai-nilai yang
membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya.
Definisi tentang antropologi juga muncul dalam situs wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi), yaitu :
Definisi tentang antropologi juga muncul dalam situs wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi), yaitu :
• William A. Havilan
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha
menyusun generalisai yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta
untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
• David Hunter
• David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang
tidak terbatas tentang manusia
• Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada
umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk pada fisik masyarakat serta
kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antroplogi yaitu sebuah ilmu yanag mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnnya berbeda-beda.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antroplogi yaitu sebuah ilmu yanag mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnnya berbeda-beda.
b. Pendidikan
Ngalim Purwanto (1995:11) menyatakan bahwa pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Esensi dari pendidikan itu sendiri ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda setiap masyarakat atau bangsa.
c. Antropologi Pendidikan
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik,
tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga
tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang
dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan. (Imran Manan dalam Zamzami,
http://Izamzami.multiply.com/reviews/item/s)3)
Menurut Shomad (2009:1), antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.
Menurut Shomad (2009:1), antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.
Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan
informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan
semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat, pendidikan
memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu
keseluruhan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan
percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek
pendidikan dalam perspektif budaya, sehingga antropologi menyimpulkan bahwa
sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam
membimbing masyarakat.
3. Ruang Lingkup Antropologi Pendidikan
Ralphlinton dalam Shomad (2009:3) menganggap kebudayaan
adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama,
fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian
diri dengan lingkungan.
Lebih lanjut, Shomad (2009:3-4), menjelaskan implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung dalam proses:
Lebih lanjut, Shomad (2009:3-4), menjelaskan implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung dalam proses:
a. Proses sosialisasi:
Proses ini dimulai sejak bayi baru
lahir. Bayi berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, hingga terjadi
komunikasi timbal balik dan seterusnya hingga ia tumbuh dan berkembang.
Adapun yang menjadi sorotan dalam proses sosialisasi yaitu:
1. adanya konflik oleh ketidakharmonisan antara keinginan pribadi, anak dengan tuntutan norma dan aturan yang berlaku
2. perbedaan status ekonomi dan letak geografis
b. Proses Enkulturasi
Adapun yang menjadi sorotan dalam proses sosialisasi yaitu:
1. adanya konflik oleh ketidakharmonisan antara keinginan pribadi, anak dengan tuntutan norma dan aturan yang berlaku
2. perbedaan status ekonomi dan letak geografis
b. Proses Enkulturasi
Enkulturasi, artinya pembudayaan. Yang dimaksud adalah proses pembudayaan anak agar menjadi manusia berbudaya.
Dalam proses ini pranata, yaitu sistem norma atau aturan-aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. (Koentjaraningrat,1980:164).
Adapun yang biasa menjadi kajian dalam proses ini, yaitu:
1. Perbedaan jenis kelamin
2. Perbedaan umur
3. Perbedaan/perubahan status
(inisiasi)
c. Proses Internalisasi
Proses internalisasi yaitu proses
penerimaan dan menjadikan warisan sosial (pengetahuan budaya) sebagai isi
kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku sehari-hari selama hayat masih
dikandung badan.
Dalam proses ini kita mendapatkan adanya perbedaan pada masing-masing individu berupa perbedaan kepribadian dan pengalaman.
Dalam proses ini kita mendapatkan adanya perbedaan pada masing-masing individu berupa perbedaan kepribadian dan pengalaman.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Sehubungan
dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam
tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological
approach to education, educational sociology of education, atau the foundation.
Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah
tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.
Nasution mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
• hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
•
hubungan antar manusia di dalam Sekolah
•
pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah /
lembaga pendidikan
•
hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Shomad menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Shomad menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan
Ralphlinton menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Abu.1984. Pengantar Sosiologi. Sala:
Ramadhani.
Ahmad,
Abu dan Uhbiyati, Nur. 2001. Ilmu
Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
Chaerudin, dkk.1995. Materi Pokok Pendidikan IPS 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Faisal, Sanapiah dan Yasik, Nur. tt. Sosiologi Pendidikan. Surayaba: Usaha Nasional.
Gunawan, Ary H. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai Problem Pendididikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaerudin, dkk.1995. Materi Pokok Pendidikan IPS 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Faisal, Sanapiah dan Yasik, Nur. tt. Sosiologi Pendidikan. Surayaba: Usaha Nasional.
Gunawan, Ary H. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai Problem Pendididikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasojo.1984.
Pengantar Antropologi. Bandung: Bina Cipta.
Koentjaraningrat.1986.
Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Nasution.
2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto,
Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
penelitian tindakan kelas
RESUME
BUKU PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENULIS
ZAINAL AQIB, PENERBIT YRAMA WIDYA BANDUNG
OLEH
LIA
GUSTINA AIS
10110117
BK
VC
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PGRI B. LAMPUNG
2013
KATA
PENGATAR
Puji
syukur kehadirat Allah berkat rahmat dan hidayahNya, penulis dapat
menyelesaikan resume ini. Resume ini disusun dalam rangka menyelesaian tugas
mata kuliah Penelitian Pendidikan yang diampu oleh dosen Dr. Hj. Dharlinda Suri
Damiri.
Dalam
resume ini berisikan bagaimana melaksanakan pengembangan profesi PTK bagi guru,
karena PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap
dinamika pembelajaran di kelasnya.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam buku ini, karena itu penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaannya resume ini.
Bandar
Lampung 1 Januari 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
Kata
Pengantar……………………………………………………... i
Daftar
Isi…………………………………………………………… ii
BAB
I Hakikat
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)……….. 1- 8
BAB
II Pelaksanaan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)….. 9 - 12
BAB
III Penilaian Laporan Penelitian
Tindakan…………. 13 - 14
Daftar
Pustaka……………………………………………………… 15
BAB I
Hakikat Penelitian Tindakan Kelas
(PTK)
A. Pengertian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Dalam
bahasa Inggris Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diartikan dengan Classroom Action Research, disingkat
CAR. Ada tiga kata pembentuk pengertian tersebut, yaitu.
1. Penelitian
Yaitu
kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metode tertentu untuk
memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu dari
suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan
Sesuatu
gerak kegiatan yang sengaja dilakukan denga tujuan tertentu, yang dalam
penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3. Kelas
Sekelompok
siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang
guru.
Dengan
penggabungan tiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, penelitian
tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yag sengaja
dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas.
Penelitian
tindakan kelas (PTK) pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologi social Amerika
yang bernama Kurt Lewin pada tahun
1946. Sedangkan di Indonesia baru dikenalkan pada akhir decade 80-an. Ole
karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian
masih sering menjadi perdebatan jika dikaitkan denga bobot keilmiahanya.
Jenis
penelitian ini dapat dilakukan dalam segala bidang. Dalam bidang pendidikan
peneitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro . dalam skala
mikro misalnya dilakukan dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan
belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata pelajaran.
B.
Jenis-jenis Penelitian
Bagi seseorang yang
memang ingin mendalami penelitian, perlu mengenal lebih banyak dan rinci
tentang jenis-jenis penelitian yang ditinjau dari berbagai aspek dan menunjuk
pada nama dan model pendekatan penelitiannya. Tujuannya adalah sebagai berikut.
1.
Menurut tujuannya
a. Penelitian eksploratif
yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui sesuatu dengan cara menggali atau
mengeksplor.
b. Penelitian deskriptif
dilakukan oleh peneliti untuk
mengumpulkan informasi atau data tentang fenomena yang di teliti, missal
kondisi sesuatu kejadian atau factor-faktor penyebab terjadinya sesuatu.
c. Penelitian eksperimen
adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari adanya perilaku
yang dengan sengaja dikenalkan pada subjek. Dengan kata lain penelitian ini
dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis yang dilandasi dengan asumsi yang kuat
akan adanya hubungan sebab akibat antara 2 variabel
d. Penelitian evaluasi yang
dilakukan untuk mengetahui keterlijakan aksanaan suatu kebijakan. Jika ada
hambatan dapat diketahui apa hambatan tersebut kemudian dapat menentukan
cara-cara dalam rangka mengatasi hambatan yang dimaksud.
2. Menurut
model penelitiannya, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu.
a.
Penelitian
Kuantitatif, yang dilakukan dengan cara menggambarkan
data dalam bentuk angka-angka yang bentuknya kuantitatif, sehingga dapat
digunakan untuk meramalkan kondisi yang lebih luas yaitu populasi dan masa yang
akan dating.
b.
Penelitian
Kualitatif, yang dilakukan secara cermat mendalam dan rinci
sehingga dapat mengumpulkan data yang sangat lengkap dan dapat menghasilkan
informasi yang menunjukan kualitas sesuatu.
C. Sifat
dan karakteristik PTK
PTK
merupakan tugas dan tanggung jawab guru terhadap kelasnya. Meskipun menggunakan
kaidah peneitian ilmiah, PTK berbeda dengan penelitian formal akademik pada
umumnya. PTK setidaknya memiliki karakteristik antara lain.
1. Didasarkan
pada masalah yang dihadapi guru dalam intruksional.
2. Adanya
kaloborasi dalam pelaksanaannya.
3. Peneliti
sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi.
4. Bertujuan
memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional.
5. Dilaksanakan
dalam rangkaian lagkah dengan beberapa siklus.
D. Prinsip-Prinsip
PTK
Menurut
Hopskin, (1993:57-61), ada 6 prinsip dalam PTK yaitu.
1. Pekerjaan
utama seorang guru adalah mengajar, dan apapun metodenya PTK yang diterapkan
nya seyogyanya tidak mengganggu komitmen sebagai pengajar.
2. Metode
pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru
sehngga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
3. Metode
pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebih dari guru
sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
4. Metode
yang digunakan harus reliable,
sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara
meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang
dapat digunakan untuk menjawab hipotesis
yang dikemukakan.
5. Dalam
penyelanggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian
tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6. Dalam
plaksanaanya sejauh mungkin harus digunakan class
room excerding perspective.
E. Tujuan
dan Manfaat PTK
PTK
merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layana
kependidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan
peningkatan kualitas program secara keseluruhan.
Manfaat
yang dapat dipetik adalah sebai berikut.
1. Inovasi
pembelajaran
2. Pengembangan
kurikulum ditingkat sekolah dan di tingkat kelas
3. Peningkatan
profesionalisme guru.
F. Ciri-ciri
Penelitian Tindakan
1. Penelitian
tindakan partisipatori, yaitu kegiatan penelitian yang
dilakukan dengan menekankan keterlibatan anggota agar merasa ikut serta
memiliki program kegiatan tersebut serta berniat ikut aktif memecahkan masalah
berbasis umum.
2. Penelitian
tindakan kritis, yaitu penelitian yang dilakukan dengan
menekankan adanya niat yag tinggi untuk memecahkan masalah dan menyempurnakan
situasi.
3. Penelitian
tindaka kelas,
yaitu
penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau sekolah tempat ia mengajar
dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik
pembelajaan.
4. Penelitian
tindakan institusi, yaitu dilakukan oleh pihak
pengelola sekolah sebagai sebuah organisasi untuk meningkatkan kinerja, proses,
dan prodiktivitas lembaga.
G. Jenis-jenis
PTK
Terdapat
empat jenis PTK, yaitu sebagai berikut.
1. PTK
diagnostic, yaitu penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti kearah
suatu tindakan.
2. PTK
partisipasi, yaitu suatu penelitaian yang apabila peneliti terlibat langsung
didalam proses penelitian mulai sejak awal sampai dengan hasil penelitian yang
berupa laporan.
3. PTK
empiris, yaitu PTK yang apabila peneliti berupaya melakukan sesuatu tindakan
atau aksi dan membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi
berlangsung.
4. PTK
eksperimental, yaitu apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan
berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien didalam suatu kegiatan
belajar mengajar.
H. Model-model
PTK
Ada
beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia
pendidikan, diantaranya.
1. Model Kurt Lewin
Beliau mengatakan bahwa
dalam satu siklus terdiri atas empat langkah, yaitu.
a. Perencanaan
(planning)
b. Aksi
atau tindakan (acting)
c. Observasi
(observing)
d. Refleksi
(Reflecting) Lewin, 1990
Sementara itu, empat
langkah dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin tersebut di
kaloborasi oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi
a. Perencanaan
(planning)
b. Pelaksanaan
(implementing)
c. Penelitian(evaluating)
2.
Model
Kemmis dan Mc Taggart
Model ini tampak begitu
dekat dengan yang dikemukaka oleh tokoh sebelumnya diatas. Dikatakan demikian,
karena didalam satu siklus terdiri dari empat komponen seperti halnya dikatakan
oleh Lewin sehingga belum tampak adanya perubahan. Keempat komponen tersebut
adalah.
a. Perencanaan
(planning)
b. Aksi
atau tindakan (acting)
c. Observasi
(observing)
d. Refleksi
(Reflecting) Lewin, 1990
Hanya
saja, sesudah suatu siklus selesai diimplementasikan, khusunya sesudah adanya
refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan
dalam bentuk siklus tersendiri.
3.
Model
John Elliot
Model ini dikatakan
lebih rinci dibandingkan model sebelumnya. Karena didalam setiap siklus
dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi, yaitu tiga atau lima aksi. Sementara
itu beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk belajar mengajar.
4. Model
Dave Ebbutt
Model ini adalah
penyempurna dari model-model sebelumnya.
I. Sasaran
atau objek PTK
a. Unsur siswa,
dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedag asyik mengikuti
proses pembelajaran dikelasmaupun yang sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah
dimalam hari, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti diluar sekolah.
Contoh judul atau
permasalahan tentang siswa tang dapat diangkat dan dijadikan judul peneitian
tindakan antara lain: perilaku kedisiplinan, semangat siswa ketika melakukan
kegiatan ekstrakulikuler, keseriusan siswa untuk mengerjakan tugas, ketelitia
siswa dalam mengelola sarana belajarnya, dsb.
b.
Unsur
guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang
mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata
atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan rumah.
c.
Unsur
materi Pelajaran, dapat
dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai tugas yang ditugaskan kepada
siswa.
d.
Unsur
peralatan atau sarana pendidikan, dapat cermati ketika
guru sedang mengajar. Dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar, yang bisa
di amati guru, siswa atau keduanya.
e.
Unsur
hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan
titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran, baik susunan maupun
tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus
ditingkatkan, hal ini pasti terkait dengan tindakan unsur lain yaitu proses
pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan atau siswa sendiri.
f.
Unsur
lingkungan, baik lingkungan siswa dikelas, sekolah maupu
yang melingkupi siswa dirumahnya. Dalam penelitian tindakan, bentuk perlakuan
atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih
kondusif.
g. Unsur pengelolaan, yang
jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam
bentuk tindakan
BAB
II
PELAKSANAAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.
PROSEDUR PELAKSANAAN PTK
PTK
dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap
seperti pada gambar.
|
Perencanaan
|
|
Tindakan
|
|
Observasi
|
|
Merefleksi
|
Menurut
Taggart prosedur pelaksanaan PTK mencangkup.
1.
Penetapan
focus masalah penelitian
a. Merasakan
adanya masalah
b. Analisis
masalah
c. Perumusan
masalah
2.
Perencanaan
tindakan
a. Membuat
scenario pembelajaran
b. Mempersiapkan
fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan dikelas
c. Mempersapkan
instrument untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil
tindakan.
d. Melaksanakan
simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan.
3.
Pelaksanaan
Tindakan
Meliputi siapa
melakukan apa, kapan, di mana dan sebagainya. Scenario tindakan yang telah
direncanakan, dilaksanakan dalam situasi yang actual. Pada saat yag bersamaan
kegiatan ini juga disertai dengan kegiatan observasi dan interpretasi serta
diikuti dengan kegiatan refleksi.
4.
Pengamatan
Interprestasi
Pada bagian ini,
dilakukan data yang meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan.
Tujuannya adalah untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi
dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi.
5.
Refleksi
Pada bagian refleksi dilakukan
analisis data mengenai proses, masalah, dan hambatan yang di jumpai dan
dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan.
B. PENYUSUNAN
PROPOSAL PTK
Berikut
ini adalah sistematika proposal PTK
1. Judul
Penelitian
Judul dinyatakan denga
kalimat sederhana, namun Nampak jelas maksud tindakan yang akan dilakukan dan
dimana penelitian dilangsungkan, jika diperlukan cantumkan penanda waktunya.
2. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Menguraikan kondisi
objektif yang mengharuskan dilaksanakan PTK. Kondisi ini merupakan hasil
identifikasi guru terhadap masalah proses pembelajaran yang diselenggarakan.
b. Rumusan masalah
Mengemukakan
masalah-masalah yang akan dipecahkan melalui PTK yang akan Anda laksanakan.
c. Tujuan Penelitian
Tujuan ini merupakan
proses yang akan dilakukan atau kondisi yang diinginkan setelah
dilaksanakannya.
3.
Kajian
Teori (Pustaka)
Kajian ini berisikan
ulasan atau teoritis dengan konsep pembelajaran dan konteks PTK yang akan
dilaksanakan.
4.
Metode
Penelitian
Metode penelitian
adalah tahapan-tahapan cara melaksanakan penelitian. Gunakan kerangka rancangan
PTK yang telah lazim digunakan.
a. Subjek penelitian
Contoh: penelitian
adalah siswa kelas V SDN berjumlah 40 orang.
b. Pokok Bahasan Acuan
Contoh: konsep yang
dipilih sebagai acuan implementasi tindakan adalah konsep cahaya dan
pengelihatan.
c. Bentuk tindakan
Contoh: tindakan utama
yang dilakukan adalah pemberian modul untuk meningkatkan kemampuan awal siswa
dan merevisi kesalahankesalaha bagi pengembangan pemahaman siswa.
d. Teknik observasi
Contoh: observasi
terhadap tindakan dilakukan secara kontiyu dan dengan berbagai cara. Berarti
dilakukan secara terus menerus baik dalam proses pembelajaran ataupun pada
hasil belajar. Proses pengamatan terutama dituukan pada perkembangan pemahaman
siswa dengan acua respon siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan, pemahaman atau
kemungkinan siswa berpartisipasi dalam
diskusi-diskusi atau pemecahan masalah. Hasil akhir dari observasi
dengan teknik ini berupa tes formatif.
e.
Evaluasi
atau refleksi
Contoh: evaluasi yang
dilakukan terhadap pemberian modul selama proses belajar maupun terhadap hasil
belajar. Dari hasil evaluasi diketahui kefektifan modul yang telah disusun.
f. Pelaksanaan dan penjadwalan
Contoh: untuk
menyesuaika dengan kondisi pembelajaran yang sedang berlangsung, penelitian
dilakukan dengan rincian sebagai berikut.
Kegiatan Siklus I waktu
1. Persiapan
2. Pelaksanaan
Kegiatan
Siklus II waktu
3. Persiapan
4. Pelaksanaan
5. Penyusunan
Laporan Akhir dan seminar
C. LAPORAN
KEGIATAN PTK
Proses
penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah
disiplin mencatat apa yang sudah dia lakukan. Satu hal yang perlu diperhatikan
adalah bahwa sistematika laporan harus urut sesuai uruta penelitian, hasil
harus jelas dan sebaiknya dilengkapi dengan data yang akurat. Lebih baik lagi
jika dihias dengan tampilan visual seperti grafik, bagan dan lainnya.
BAB
III
PENILAIAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN
Secara
umum, sasaran penilaian sebuah karya ilmiah yang berupa laporan peneitian dapat
dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Tampilan
fisik non substansi, dan
2. Isi
atau substansi. Untuk kedua hal tersebut kita menentukan aspek-aspek yang
dinilai denga indicator yang jelas sehingga tiap penilaian dapat mengacu ke
indicator tersebut, tanpa ada unsur subjektivitas yang masuk kedalam penilaian.
1.
TAMPILAN
FISIK NON SUBSTANSI
Yang
perlu dinilai dalam tampilan ini adalah:
a. Persyaratan
administrasi
b. Kelengkapan
dan urutan komponen laporan
c. Kualitas
bahasa yang digunakan termaksud krbrnaran ejaan menurut aturan EYD
a. Persyaratan administrasi
b. Kelengkapan dan urutan komponen
laporan
c. Kualitas bahasa
2.
ISI
ATAU SUBSTANSI
Penilaian
ini jauh lebih rumit dibandingkan dengan penelitian aspek tampilan fisik non
substansi, demikian juga besarnya nilai yang diberikan. Untuk itu dapat dibagi
lagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Bagian
umum penelitian
Yang dinilai adalah
kelengkapan komponen pendahuluan berisi latar belakang masalah atau tujuan
penelitian, objek atau variable penelitian, met de yang digunakan pembahasan
dan kesimpulan.
b. Bagian
khusus penelitian tindakan
Aspek yang dinilai adalah.
a. Orisinalitas
objek penelitian
b. Esensi
atau tingkat pentingnya penelitian tindakan yang dilakukan
c. Proses
tindakan
d. Pelaku/pelaksana
tindakan
e. Kesimpulan
atau hasil tindakan
DAFTAR PUSTAKA
Aqib,
Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
Yrama Widya.
Langganan:
Postingan (Atom)
