8 Oktober 2014

Kekerasan Orang Tua Pada Anak



Tugas mencari artikel mengenai Child Abuse



dicuplik dari kajian17 juli
Keluarga adalah lingkungan pertama dalam kehidupan anak, tempat dimana anak belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pendidikan dalam keluarga sangat menentukan sikap seseorang, karena orangtua menjadi basis nilai bagi anak. Pola asuh, peran dan tanggung jawab yang dijalankan oleh orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak bukan merupakan pekerjaan yang mudah, dimana kadang kala orang tua mengalami hambatan. Hambatan-hambatan tersebut berujung pada perlakuan yang salah kepada anak.

Kasus-kasus perlakuan salah yang menimpa anak-anak yang seringkali terjadi adalah kekerasan pada anak. Selama tahun 2006 (dalam Andez, 2007), data dari komnas Perlindungan Anak (PA) menyebutkan, jumlah kekerasan fisik sebanyak 247 kasus, kekerasan seksual 426 kasus sedangkan kekerasan psikis 451 kasus. Kekerasan yang menimpa anak-anak, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tingginya kekerasan pada anak memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan menjadi persoalan yang amat serius, apalagi kekerasan tersebut dilakukan oleh orang tua sendiri. Dimana orangtua seharusnya menjadi seorang yang paling bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial.

Dari sekian pengaduan kekerasan yang diterima komnas Perlindungan Anak (PA), pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah pertama, munculnya kekerasan dalam rumah tangga, terjadinya kekerasan yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya menyebabkan tidak terelakkannya kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi sasaran kemarahan orang tua. Kedua, terjadinya disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Ketiga, faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi.

Tindak kekerasan terhadap anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Meskipun banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah, seperti penyusunan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (RAN-PKTP), pembangunan pusat-pusat krisis terpadu di rumah sakit, pembangunan ruang pelayanan khusus (RPK) di Polda dan Polres, dan penyebaran informasi dan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun kesemua upaya tersebut belum cukup untuk menekan tingginya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

Sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga, orang tua sangat berperan dalam meletakan dasar-dasar perilaku bagi anak-anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tak sadar diresapinya dan kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Hal demikian disebabkan karena anak mengidentifikasikan diri pada orang tuanya sebelum mengadakan identifikasi dengan orang lain. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah salah satu cara mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi; penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking atau jual-beli anak. Patilima (2003) menganggap kekerasan merupakan perlakuan yang salah orang tua. Patilima mendefinisikan perlakuan salah pada anak adalah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibatnya mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental.

Rumusan masalah dalam penelitian adalah fakta bahwa telah terjadi peningkatan kekerasan anak oleh orang tua. Dimana orangtua seharusnya menjadi seorang yang paling bertanggung jawab atas tumbuh dan berkembangnya anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Padahal, kekerasan akan menimbulkan efek psikologis yang sangat berat bagi korban karena pengalaman traumatik masa kecilnya akan terus dibawa hingga anak menjadi dewasa.

Sedangkan secara umum tujuan penelitian ini akan mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut antara lain, bentuk-bentuk perlakuan baik secara fisik maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak. Adapun indikator untuk mengukur variabel bentuk-bentuk kekerasan anak, antara lain; 1) Kekerasan Fisik, yaitu, perbuatan orang tua kepada anaknya yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka baik ringan maupun berat. 2) Kekerasan Psikis, yaitu, perbuatan orang tua yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan penderitaan psikis berat pada anak, 3) Kekerasan Seksual, yaitu, Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup hidup rumah tangga tersebut; pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu, dan 4) Penelantaran Anak, yaitu, menelantarkan anak dalam lingkup rumah tangganya, membatasi atau melarang anak untuk beraktivitas yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga anak berada di bawah kendali orang tua dan timbul ketergantungan penuh pada orang tua.

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 60 orang anak yang bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk. Alasan pemilihan subyek penelitian di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk adalah (1) Berdasarkan informasi awal, diketemukan bahwa murid di SDN tersebut ada yang pernah dilaporkan mengalami kekerasan orang tua, selain itu informan adalah salah satu guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman 1, Kabupaten Nganjuk, (2) Laporan tentang kekerasan anak di SDN tersebut berjumlah lebih dari 2 kali dan (3) Guru di SDN tersebut bersedia membantu kelengkapan data penelitian. Adapun ciri-ciri sampel penelitian, yaitu, 1) Jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, 2) Umur, 6-18 tahun, dalam kategori pengertian anak.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala, yaitu metode pengumpulan data yang berisi serangkaian pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan diri subyek yang ingin diteleiti, dengan proses pengisian informasi melalui informasi guru kelas. Dalam penelitian ini digunakan 1 macam skala yaitu skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak.
Sedangkan analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis Statistik Deskriptif, yang dilakukan untuk mengetahui deskripsi dari variabel, dimana variabel dalam penelitian ini adalah satu variabel (monovariabel). Validitas isi tes ditentukan melalui pendapat professional (professional judgement), yang dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing. Selain menggunakan validitas isi, untuk menguji kesahihan alat ukur juga dilakukan dengan mengkorelasikan butir skor total. Hal ini dilakukan untuk melihat indeks diskriminasi aitem. Suatu item alat ukur dinyatakan sahih, jika mempunyai nilai positif dan memiliki p (taraf signifikansi) maksimal 5% (Hadi, 2000).

Pada penelitian ini dilakukan 2 (dua) macam analisis, yaitu Analisis Indeks Diskriminasi Item atau Kesahihan Butir dan Uji Keandalan Alat Ukur. Hasil analisis kesahihan butir terhadap skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah dari 60 item yang disusun, 11 item gugur dan 49 item sahih dengan koefisien korelasi (rbt) antara 0,238 – 0,769 dengan taraf signifikansi (p) = 0,046 – 0,000. Sedangkan hasil uji keandalan skala menunjukkan bahwa koefisien korelasi = 0,948 pada taraf signifikansi (p) = 0,000. Hal ini berarti skala Bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah andal.
Hasil analisa data dengan menggunakan analisis statistik deskriptif yang dilakukan terhadap variabel bentuk-bentuk kekerasan kepada anak adalah antara lain ; 1) Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Fisik, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan fisik diperoleh harga mean = 33.72 dan dengan standar deviasi = 5.91. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan fisik menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 2 subyek (4 %), rendah = 2 subyek (4 %), sedang = 36 subyek (72 %), tinggi = 10 subyek (20 %) dan sangat tinggi = 0 subyek (0 %).
Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Psikis, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan Psikis diperoleh harga mean = 29.96 dan dengan standar deviasi = 6.16. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan psikis menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 0 subyek (0 %), rendah = 4 subyek (8 %), sedang = 36 subyek (72 %), tinggi = 9 subyek (18 %) dan sangat tinggi = 1 subyek (2 %).
Analisis Deskriptif Pada Indikator Kekerasan Seksual, menunjukkan distribusi frekuensi dari data kekerasan Seksual diperoleh harga mean = 33.56 dan dengan standar deviasi = 7.08. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data kekerasan Seksual menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 2 subyek (4 %), rendah = 6 subyek (12 %), sedang = 35 subyek (70 %), tinggi = 6 subyek (12 %) dan sangat tinggi = 1 subyek (2 %).

Dan Analisis Deskriptif Pada Indikator Penelantaran Anak menunjukkan distribusi frekuensi dari data Penelantaran Anak diperoleh harga mean = 21.88 dan dengan standar deviasi = 5.68. berdasarkan pedoman distribusi normal maka diklasifikasikan menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil analisis data Penelantaran Anak menunjukkan klasifikasi sangat sedang = 0 subyek (0 %), rendah = 7 subyek (14 %), sedang = 35 subyek (69 %), tinggi = 9 subyek (18 %) dan sangat tinggi = 0 subyek (0 %). Hasil perhitungan analisis data selengkapnya pada lampiran.

Berdasarkan hasil analisa data, maka dapat diketahui bahwa kekerasan orang tua terhadap anak memang masih ada dan tergolong tinggi. Meskipun secara statistik nilainya masih kecil yakni berkisar antara 12 % sampai dengan 20 %.

27 Juli 2014

Tata cara solat idul fitri dan idul adha

Tata Cara Shalat
Sunnah Idul Fitri
dan Shalat Sunnah
Idul Adha
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Asyhadu an -laa ilaaha illallaah Wa asyhadu
anna Muhammadan rasuulullaah
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul
(utusan) Allah.
Silahkan Membaca dan Menyimak
Shalat hari raya ada dua, yaitu hari raya Fitrah
tanggal 1 Syawal dan hari-hari raya Adha tanggal
10 Dzulhijjah.
Waktu shalat 'Id dimulai dari terbit matahari
sampai tergelincirnya. Kedua shalat hari raya
tersebut, hukumnya sunat muakkad bagi laki-laki
dan perempuan, mukim atau musafir. Boleh
dikerjakan sendirian dan sebaiknya dilakukan
berjamaah.
Cara Mengerjakannya
1. Pada pagi hari tanggal 1 Syawal, sesudah kita
menunaikan shalat subuh dan sesudah kita mandi
sunah Hari Raya, lalu berangkatlah menuju masjid
atau tanah lapang dengan memperbanyak
mengucapkan takbir.
2. Setelah tiba di masjid, maka sebelum duduk
shalat tahiyatul-masjid dua rakaat. Kalau ditanah
lapangan tidak ada tahiyatul-masjid, hanya
duduklah dengan ikut mengulang-ulang bacaan
takbir, sampai mulai shalat Id itu.
3. Lafazh / Niatnya ialah sebaga berikut :
->Jika shalat 'Idul Fitri :
" Ushallii sunnatal-li'iidil-fitri rak'ataini lillahi
ta'aalaa.
Artinya:
'' Aku niat shalat sunah 'Idul Fitri dua raka'at
karena Allah Ta'ala. ''
->Jika shalat 'Idul Adha :
" Ushallii sunnatal-li'iidil-adhhaa rak'ataini
lillahi ta'aalaa.
Artinya :
'' Aku niat shalat sunah 'Idil Adha dua raka'at
karena Allah Ta'ala. ''
4. Pada rakaat pertama : Sesudah niat mula-
mula membaca takbiratul ihram kemudian
membaca doa iftitah, selanjutnya takbir 7 kali dan
setiap habis takbir disunahkan membaca :
Subhaanallahi wal-hamdu lillaah wa laa ilaaha
illallah wallaahu akbar.
Artinya :
Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah,
tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha
Besar
Setelah takbir 7 kali dan membaca tasbih
tersebut. Kemudian membaca surat Al-Fatihah
dan disambung dengan membaca surat yang
disukai, dan lebih utama membaca surat Qaf atau
surat Al-A'la (Sabbihisma Rabbikal-a'laa).
5. Pada raka'at kedua, sesudah berdiri untuk
raka'at kedua membaca takbir 5 kali, dan setiap
takbir disunahkan membaca tasbih seperti pada
raka'at pertama.
Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan
diteruskan dengan bacaan surat yang kita
kehendaki, tetapi lebih utama membaca surat Al-
Ghayiah. Bacaan itu dengan suara yang nyaring.
Imam menyaringkan yakni mengeraskan suaranya
pada waktu membaca surat Al-FATIHAH dan
surat-surat lainnya, sedangkan makmum tidak
nyaring.
6. Shalat ini dikerjakan dua raka'at dan dilakukan
sebagaimana shalat-shalat lainnya.
7. Khutbah dilakukan sesudah shalat 'Id dua kali,
yaitu pada khutbah pertama membaca takbir 9
kali dan pada khutbah kedua membaca takbir 7
kali dan pembacaannya harus berturut-turut.
8. Hendaknya dalam khutbah 'Idul Fitri berisi
penerangan tentang zakat fitrah dan pada hari
raya Haji / Qurban berisi penerangan tentang
ibadah haji dan hukum kurban.
Hal -hal Yang Dilakukan Sebelum Shalat ' I' d
1. Pada hari raya disunnahkan mandi, dan berhias
dengan memakai pakaian yang sebaik-baiknya
dan menggunakan wangi-wangian yang
dimilikinya.
2. Disunahkan makan sebelum pergi shalat pada
hari 'Idul Fitri, tetapi pada hari Haji disunahkan
tidak makan kecuali setelah shalat.
3. Pergi untuk mengerjakan shalat dan pulangnya
dari shalat hendaknya mengambil jalan yang
berlainan.
4. Takbiran
Pada hari raya Fitrah dan Haji disunahkan
membaca takbir di luar shalat dan waktunya
sebagai berikut :
1. Pada hari raya Fitrah takbir dimulai dari
terbenamnya matahari hingga imam berdiri untuk
mengerjakan shalat hari raya.
2. Pada hari raya Haji takbir dimulai dari subuh
pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan pada
tiap-tiap shalat fardhu yang lima waktu pada
hari-hari tanggal tersebut.
3. Lafazh Takbiran :
Allaahu akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Laa
ilaaha illallahu wallaahu akbar. Allaahu Akbar
wa lillaahil-hamdu (3x). Allaahu Akbar kabiiraw
wal-hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaanallaahi
bukrataw wa ashiilaa. Laa ilaaha illallaahu wa
laa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lanud-
diina wa lau karihal-kaafiruun. Laa ilaaha
illallaahu wahdahu shadaqa wa'dahu wa nashara
'abdahu wa a'azza jundahu wa hazamal-ahzaaba
wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu Akbar wa lillaahil-hamdu.
Artinya :
''Allahu Maha Besar (3x). Tidak ada Tuhan
melainkan Allah, Allah Maha Besar dan segala
puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha
Agung dan segala puji bagi Allah. Maha Suci
Allah pada pagi dan petang, tiada Tuhan
melainkan Allah dan tidak ada yang kami
sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlash
kami beragama Kepada-Nya, walaupun orang-
orang kafir membenci. Tidak ada Tuhan
melainkan Allah sendiri-Nya, benar janji-Nya,
dan Dia menolong akan hamba-Nya, dan Dia
mengusir musuh nabi-Nya dengan sendiri-Nya,
tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puji.''
Perlu diketahui bahwa pada hari 'Idul Fitri dan
Adha, anak-anak besar kecil, tua muda supaya
meramaikannya, bahkan bagi wanita-wanita yang
sedang haid pin dianjurkan keluar lapangan,
sekalipun mereka tidak ikut shalat.
Nabi Muhammad s.a.w bersabda :
Dari Ummi 'Athiyah katanya : ''Kami
diperintahkan pergi shalat hari raya, bahkan
anak-anak gadis keluar dari pingitannya. Juga
perempuan-perempuan yang sedang haid (datang
bulan) tetapi mereka hanya berdiri saja di
belakang orang banyak, dan turut takbir dan
berdoa bersama-sama dan mereka
mengharapkan beroleh keberkahan dan kesucian
hari itu.''
Semoga bermanfaat

3 Juli 2014

2014.. menuju bulan ke 6

2014..

Tahun ini telah berlalu dalam hitungan ke 6 bulan.. telah kulalui banyak peristiwa yg tak terduga..

Di mulai dari kembalinya aku dari baroneo, bermalam di rumah sahabat-sahabat facebook ku di jatinegara dan BSD.. hehe..

Dan yg lebih luar biasa.. aku telah menginjakan tanah harom.. ;) masjidil harom dan nabawi.. subahanallah.. telah ku lakukan pula solat sunah di makaom ibrahim dan mengecup hajar aswadmu..

19 Desember 2013

Vacation to borneo island

20 Desember 2013..

Vacation Part 1

Holiday di semester 1.. penghujung tahun 2013.. di nikmati bersama keluarga di borneo... :) senang..

Rute perjalanan:

Di jemput dan di antar alak ria dr rumah pukul. 06.00. Tiba d bandara Radin Inten 2. Pukul 07.00. Langsung chekin dan boardingpast.. rupanya ketika masukan barang k bagasi.. barang bawaan ow sebanyak 14 kg. Terpaksa daah kita bayar bagasi..

Maskapai yg di gunakan saai itu. SriwijayaAir. Pukul 08.15 takeoff dr lampung to jakarta. Alhamdulilah ga delay.. perjalanan d tempuh 45 menit.

Alhamdulilah.. sampai di Soeta dg selamat.. langsung ngambil barang2 d bagasi.. trs cari troli.. alhamdulilah di bantu dg potter bandara.

Dr terminal B4. Saya menuju. Terminal 1c. Mencaei counter kalstar. Maskapai yang akan membawa saya terbang menuju Borneo.. sAmpai di sana.. issu tiket. Rupanya penerbangan di lakasanakan pull 15.00..#waaah banyak waktu yg terbuang di bandara ini.

Sambil menunggu waktu. Istirahat dulu di area foodcourt AW terminal C. Sbari ngisi perut. Dan cuci mata..melihat keberagaman individu di tempat ini.. luar biasaaa... banyak pelajaran yg saya ambil..

Saat ini waktu menunjukkan pukul 13.00. Saatnya chekin bersama kalstar..
takeoffnya tetap pukul 15.00. Waktu tempuh di pwrkirakan 120 menit.. itu berarti 2 jam kedepan dr pukul 15.00..

:) sampai disini dulu.. vacation part 2 masih ada kok..

-salam- Lia Kanjeng ais

29 Juli 2013

Buya hamka..

Jika kerja hanya sekedar bekerja.. babi di hutan juga bekerja... jika hidup hanya sekedar hidup. Kera juga hidup .. #buya hamka

17 Mei 2013

SOSIOANTROPOLOGI PENDIDIKAN



MAKALAH
SOSIOANTROPOLOGI PENDIDIKAN
Dosen pengampu : Drs.Ahmad Hisbullah


Lia Gustina Ais          10110117




LOGO STKIP PGRI BALAM.jpg
 






SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2013– 2014


KATA PENGANTAR

Assalamuaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, dengan segala hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah Sosoantropologi pendidikan . Tak lupa sholawat serta salam senantiasa terlimpah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.

Makalah sosioantropologi pendidikan  ini merupakan salah satu tugas mata kuliah. Diharapkan para pembaca dapat mengambil manfaat dan hikmah dari makalah ini. Saran serta kritik sangat penulis harapkan, mengingat mamkalah ini masih jauh dari kata sempurna.

Kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Wassalamuaikum Wr.Wb.

                                                                                                                          




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perkembangan sosiologi antropologi pendidikan di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi antropologi pendidikan sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi antropologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Oleh karena itu mengetahui dan memahami seluk beluk sosiologi antropolgi pendidikan sangat dianjurkan guna mendapatkan pengetahuan yang menunjang perkembangan ilmu itu sendiri dan aplikasinya dalm kehidupan baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.







BAB II

SEJARAH, PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
SOSIOLOGI ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

2.1  Sejarah, Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan

Sosiologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang relatif baru, berkembang di awal abad 20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, karena dianggap dapat dipelajari atau merupakan salah satu sub dalam pembahasan sosiologi.

1. Sejarah Sosiologi Pendidikan

Kata atau istilah ”sosiologi” pertama-tama muncul dalam salah satu jilid karya tulis Auguste Comte (1978 – 1857) yaitu di dalam tulisannya yang berjudul ”Cours de philosophie Positive.” Oleh Comte, istilah sosiologi tersebut disarankan sebagai nama dari suatu disiplin yang mempelajari ”masyarakat” secara ilmiah. Dalam hubungan ini, ia begitu yakin bahwa dunia sosial juga ”berjalan mengikuti hukum-hukum tertentu” sebagaimana halnya dunia fisik atau dunia alam. (Faisal dan Yasik, tt:11)

Berdasarkan hal diatas, kita tahu bahwa Comte menyakini dunia sosial juga dipelajari dengan metode yang sama sebagaimana digunakan untuk mempelajari dunia fisik atau kealaman. Dan bidang kajian sosiologi pendidikan sendiri, berangkat dari keinginan para sosiologi untuk meyumbangkan pemikirannya bagi pemecahan masalah pendidikan. Dalam pandangan mereka, pada saat itu sosiologi pendidikan diasosiakan dengan konsep ”Educational Sociology.”
Dalam perkembangannya, pada tahun 1914 sebanyak 16 lembaga pendidikan menyajikan mata kuliah ”Educational Sociology” pada periode berikutnya, muncul berbagai buku yang memuat bahasan mengenai ”Educational Sociology,” termasuk juga berbagai konsep tentang hubungan antara sosiologi dengan pendidikan.

Selama puluhan tahun pertama, perkembangan sosiologi pendidikan berjalan lamban. Perkembangan signifikan sosiologi pendidikan ditandai dengan diangkatnya Sir Fred Clarke sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Kependidikan di London pada tahun 1937. Clarke menganggap sosiologi mampu menyumbangkan pemikiran bagi bidang pendidikan.
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation. Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.
Adapun perkembangan sosiologi di Indonesia diawali hanya sebagai ilmu pembantu belaka, namun seiring timbulnya perguruan tinggi dana kesadaran bahwa sosiologi sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka sosiologi yang salah satunya adalah sosiologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam daftar kuliah di beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
2. Pengertian Sosiologi Pendidikan Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Dilihat dari istilah etimologi kedua kata ini tentu berbeda makna, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia, keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, terutama dalam sistem memberdayakan manusia dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.

a. Sosiologi Secara etimologis sosiologi berasal dari kata latin “socius” dan kata Yunani “logos”. “Socius” berarti kawan, sahabat, sekutu, rekan, masyarakat. “logos” berarti ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. (Chaerudin, dkk, 1995:67)
Dari segi isi, banyak ahli sosiologi mengemukakan berbagai definisi. Kita ambil sejumlah definisi untuk memberi gambaran tentang sosiologi. W.F. Ogburn dan M.F. Nimkoff dalam buku mereka “A Handbook of Sociology”, memberikan definisi sosology is the scientific of social life; yang maksudnya : sosiologi adalah studi secara ilmiah terhadap kehidupan sosial. (Ahmadi, 1984:9) Roucek dan Wafren : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. (Soekanto, 1989:16).
Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi adalah mempelajari tentang masyarakat manusia dalam bentuknya yang bermacam-macam, watak dan ciri-ciri dari pada tiap-tiap bentuk itu dan hukum yang menguasai perkembangan. Sementara Prof. Groenman mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan-tindakan manusia dalam usahanya menyesuaikan diri dalam suatu ikatan. Penyesuaian ini meliputi:
1. menyesuaikan diri terhadap lingkungan geografi
2. menyesuaikan diri pada sesama manusia
3. penyesuaian diri dengan lingkungan kebudayaan sekelilingnya
(Ahmadi, 1989:9-10).

Dari rumusan diatas kita dapat menarik kesimpulan, yaitu bahwa sosiologi adalah:
1.      merupakan hidup bermasyarakat dalam arti yang luas
2.      perkembangan masyarakat di dalam segala aspeknya
3.      hubungan antar manusia dengan manusia lainya dalam segala aspeknya

b. Pendidikan
Paedegogic berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “pais”, artinya anak, dan ”again” diterjemahkan membimbing, jadi paedagogic yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak. Secara definitif pendidikan (paedagogic) diartikan, sebagai berikut:
1. Jhon Dewey Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
2. Langeveld Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan di sengaja antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa (Suwarno, 1992:49)
3. Ki Hajar Dewantara Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2001:69)
4. Undang-undang Republik Indonesia SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Berdasarkan uraian diatas, pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.
c. Sosiologi Pendidikan
R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri. (Faisal dan Yasin, tt:39)
Beberapa pengertian sosiologi pendidikan yang lain termuat dalam Nasution (2004: 4):
1. menurut George Payne, yang kerap disebut bapak Sosiologi pendidikan, secara spesifik memandang sosiologi pendidikan sebagai studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segala segi ilmu yang dterapkan. Baginya, sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan sosiologis. Adapun menurutnya adalah memberikan guru-guru, para peneliti yang efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan.
2. F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasikan pengalamannya. Sosiologi pendidikan juga mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
3. E.B.Reutern: Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi pada dasarnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial saling mempengaruhi (process social interaction).
Tidak ketinggalan, Gunawan (2006:2) mengemukakan definisinya tentang sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
Aktivitas masyarakat dalam pendidikan, merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrumen oleh individu untuk dapat berinteraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi lain, sosiologi pendidikan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan suatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
3. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Penelitian dan analisis terhadap sistem pendidikan berdasarkan keduanya yang sekarang, tentunya sudah bisa dikuatkan antar-antar ruang lingkup sosiologi pendidikan. Karena minat dan pengalaman, ruang lingkup yang diajukan ini terbatas pada wilayah analisis seputar sistem pendidikan formal. Dalam hubungan ini, Nasution (2004:6-7), mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:
1.       hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
a.       hubungan pendidukan dengan sistem sosial atau struktur social
b.      hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan
c.       fungsi pendidikan dalam kebudayaan
d.      fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
e.       fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya

2. hubugan antar manusia di dalam Sekolah

a. hakikat kebudayaan Sekolah sejauh ada perbeadaanya dengan kebudayaan diluar sekolah dan
b.      pola interaksi sosial dan stuktur masyarakat Sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya
2.       pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan
a. peranan sosial guru-guru / tenaga pendidikan
b. hakikat kepribadian guru / tenaga pendidikan
c. pengaruh kepribadian guru / tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak / peserta didik, dan
d. fungsi Sekolah / lembaga pendidikan dalam sosial murid / peserta didik.
4. hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat

Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah / lembaga pendidikan. Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu :
a.       Pengaruh masyakarat atas organisasi Sekolah /lembaga pendidikan
b.      Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistematis sosial dalam masyarakat luar sekolah.
c.       Hubungan antara Sekolah dan masyarakat pendidikan dan
d.       Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat yang berkaitan dengan organisasi Sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam kehidupan masyarakat.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan tersebut pada dasarnta untuk mempererat dan meningkatkan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.
2.2 . Sejarah, Pengertian dan Ruang Lingkup Antroplogi Pendidikan
1. Sejarah Antropologi Pendidikan
Sejarah tentang antroplogi pendidikan tidak bisa kita pisahkan dari perkembangan ilmu antropologi itu sendiri, karena antropologi pendidikan merupakan bagian dari antroplogi.

Antroplogi sebagai sebuah ilmu mengalami tahapan-tahapan dalam dalam perkembangannya. Koentjaraningrat (1986:1-5) membaginya ke dalam 4 (empat) tahap.
Tahap pertama, ditandai dengan tulisan tangan bangsa Eropa yang melakukan penjajahan di benua Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad ke-15. Tulisan itu merupakan deskripsi keadaan bangsa-bangsa yang mereka singgahi. Deskripsi yang dituliskan mencakup adat istiadat, suku, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik. Deskripsi tersebut sangat menarik bagi masyarakat Eropa karena berbeda dengan keadaan di Eropa pada umumnya. Bahan deskripsi itu disebut juga Etnografi (Etnos berarti bangsa)
Tahap kedua, mereka menginginkan tulisan-tulisan atau deskripsi yang tersebar itu dikumpulkan jadi satu dan diterbitkan. Isinya disusun berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat, yaitu masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat, dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi. Dari sinilah bangsa-bangsa digolongkan menurut tingkat evolusinya. Sekitar tahun 1860, terbit karangan yang mengaklasifikasikan berbagai kebudayaan tingkat evolusinya. Saat itu lahirlah antropologi.
Dengan demikian pada tahap kedua ini, antroplogi telah bersifat akademis. Pada tahap ini, antropologi mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitiv untuk memperoleh pengertian mengenai tingkat-tingkat perkembangan dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran manusia di dunia.
Tahap ke tiga, antropologi menjadi ilmu yang praktis. Pada tahap ini, antropologi mempalajari masyarakat jajahan demi kepentingan kolonial. Hal ini berlangsung sekitar awal abad ke-20. Pada abad ini, antropologi semakin penting untuk mengukuhkan dominasi bangsa-bangsa Eropa Barat di daerah jajahannya. Dengan antropologi, bangsa Eropa mempelajari dan tahu bagaimana menghadapi masyarakat daerah jajahannya. Selain itu, bangsa–bangsa terjajah pada umumnya belum sekompleks bangsa Eropa Barat. Oleh karena itu, mempelajari bangsa-bangsa terjajah bagi bangsa Eropa dapat menambah pengertian mereka tentang masyarakat mereka sendiri (Bangsa Eropa Barat) yang kompleks.
Tahap ke empat, antropologi berkembang sangat luas, baik dalam akurasi bahan pengetahuanya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Hal ini berlangsung sekitar pertengahan abad ke-20. Sasaran penelitian antropologi di masa ini bukan lagi suku bangsa primitiv dan bangsa Eropa Barat, tapi beralih pada penduduk pedesaan, baik mengenai keanekaragaman fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya termasuk suku bangsa di daerah pedesaan di Amerika dan Eropa Barat itu sendiri, peralihan sasaran penelitian itu terutama disebabkan oleh munculnya ketidaksenangan terhadap penjajahan dan makin berkurangnya masyarakat yang dianggap primitiv.
Seperti halnya antropologi pada umumnya, antropologi pendidikan berusaha menyusun genaralisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.
Shomad (2009:1) menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.
Di Indonesia, sebagai negara yanag sedang membangun, sangat diperlukan pengenalan kondisi yang lebih baik dan lebih lengkap agar pembangunan yang diberlakukan tidak menimbulkan kesenjangan dengan kondisi yang sejatinya. Antropologi pendidikan sering sejalan dengan perkembangan tersebut. Dewasa ini antropologi pendidikan sendiri atau bersama-sama dengan sosiologi pendidikan, menjadi mata kuliah wajib di lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
2. Pengertian Antropologi Pendidikan
a. Antroplogi
Antropologi berasal dari kata Yunani ”antrophos” yang berarti ”manusia” dan ”logos” yang berarti ”ilmu”. Jadi antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang manusia sebagai makhluk masyarakat. Menurut R. Bedediet (Harsojo,1984:1) perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat khusus badaniah dan cara produksi tradisi serta nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya.
Definisi tentang antropologi juga muncul dalam situs wikipedia (
http://id.wikipedia.org/wiki/antropologi), yaitu :
• William A. Havilan
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisai yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
• David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia
• Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk pada fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antroplogi yaitu sebuah ilmu yanag mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnnya berbeda-beda.



b. Pendidikan

Ngalim Purwanto (1995:11) menyatakan bahwa pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Esensi dari pendidikan itu sendiri ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, ide-ide dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda setiap masyarakat atau bangsa.

c. Antropologi Pendidikan
Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan. (Imran Manan dalam Zamzami,
http://Izamzami.multiply.com/reviews/item/s)3)
Menurut Shomad (2009:1), antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.
Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, sehingga antropologi menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat.
3.       Ruang Lingkup Antropologi Pendidikan
Ralphlinton dalam Shomad (2009:3) menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.
Lebih lanjut, Shomad (2009:3-4), menjelaskan implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung dalam proses:
a.       Proses sosialisasi:
Proses ini dimulai sejak bayi baru lahir. Bayi berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, hingga terjadi komunikasi timbal balik dan seterusnya hingga ia tumbuh dan berkembang.
Adapun yang menjadi sorotan dalam proses sosialisasi yaitu:
1. adanya konflik oleh ketidakharmonisan antara keinginan pribadi, anak dengan tuntutan norma dan aturan yang berlaku
2. perbedaan status ekonomi dan letak geografis
b. Proses Enkulturasi

Enkulturasi, artinya pembudayaan. Yang dimaksud adalah proses pembudayaan anak agar menjadi manusia berbudaya.
Dalam proses ini pranata, yaitu sistem norma atau aturan-aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. (Koentjaraningrat,1980:164).
Adapun yang biasa menjadi kajian dalam proses ini, yaitu:

1. Perbedaan jenis kelamin
2. Perbedaan umur
3. Perbedaan/perubahan status (inisiasi)
c. Proses Internalisasi
Proses internalisasi yaitu proses penerimaan dan menjadikan warisan sosial (pengetahuan budaya) sebagai isi kepribadian yang dinyatakan dalam perilaku sehari-hari selama hayat masih dikandung badan.
Dalam proses ini kita mendapatkan adanya perbedaan pada masing-masing individu berupa perbedaan kepribadian dan pengalaman.




BAB III
PENUTUP


3.1.KESIMPULAN
Sehubungan dengan penamaan sosiologi pendidikan, terdapat perdebatan yang cukup tajam tentang penggunaan istilah-istilah yang digunakan antara lain sociological approach to education, educational sociology of education, atau the foundation. Pada akhirnya dipilih istilah sociology of education dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan.

R.J. Stalcup mengemukakan bahwa sociology of education merupakan suatu analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan. Tekanan dan wilayah telaahnya pada lembaga pendidikan itu sendiri.
Nasution mengemukakan ruang lingkup sosiologi pendidikan meliputi pokok-pokok berikut ini:

• hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
• hubungan antar manusia di dalam Sekolah
• pengaruh Sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak disekolah / lembaga pendidikan
• hubungan lembaga pendidikan dalam masyarakat
Shomad menyatakan bahwa studi antropologi pendidikan adalah spesialisasi yang termudah dalam antropologi. Setelah dasawarsa tahun 60-an di Amerika Serikat semakin banyak diperlukan keahlian dalam antropologi untuk meneliti masalah-masalah pendidikan, maka antropologi pendidikan kemudian dianggap dapat berdiri sendiri sebagai cabang spesialisasi antropologi yang resmi.

Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan

Ralphlinton menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.







DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu.1984. Pengantar Sosiologi. Sala: Ramadhani.
Ahmad, Abu dan Uhbiyati, Nur. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
Chaerudin, dkk.1995. Materi Pokok Pendidikan IPS 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Faisal, Sanapiah dan Yasik, Nur. tt. Sosiologi Pendidikan. Surayaba: Usaha Nasional.
Gunawan, Ary H. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai Problem Pendididikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasojo.1984. Pengantar Antropologi. Bandung: Bina Cipta.
Koentjaraningrat.1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Nasution. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto, Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda Karya.